Minggu, 27 Desember 2015

J a n d a

“Jangan pernah mengucapkan kata-kata itu!”
Tyas mengangkat wajahnya, menatap sahabatnya yang duduk di hadapannya. Gelas yang hampir sampai di mulut Tyas terhenti di udara, sebelum akhirnya ia letakkan kembali ke atas meja. Wajah Nola sudah berubah. Tak ada lagi senyum apalagi tawa di sudut bibirnya yang biasa melengkung dengan cantik itu. Ia pasti marah.

Tiap kali Tyas berkata ingin bercerai dengan suaminya, Nola selalu seperti itu. Ia akan mendengarkan semua keluhan Tyas tentang suaminya, ia juga akan tetap diam dan terus begitu sampai airmata Tyas akhirnya menetes. Saat itulah, Nola akan memeluk Tyas masih tanpa berkata apa-apa. Hanya saja, Nola akan berubah marah setiap kali Tyas mengucapkan keinginannya itu.



“Jangan bercerai! Jangan pernah menjadi janda, Yas! Jangan! Kamu akan sangat menyesal!”
“Kenapa sih, La? Aku heran sama kamu. Mau dengerin aku ngeluh panjang lebar, tapi giliran aku ngebahas soal perceraian, kamu selalu marah kayak begitu. Setelah menikah, sahabatku ya cuma kamu. Sekarang pernikahanku udah kayak neraka begini, aku mau bertahan bagaimana lagi? Kalau bukan sama kamu, sama siapa aku ngebahasnya? Setidaknya denganmu kan aku bisa tahu prosedur perceraian. Kau kan sudah pernah bercerai,” keluh Tyas.

“Karena aku sudah menjadi janda, makanya aku tahu rasanya, Yas.”
“Nah! Why not? Kamu keliatan baik-baik saja setelah bercerai. Sudah berapa lama? Enam tahun? Tujuh tahun?” tanya Tyas enteng. Kali ini ia benar-benar meminum teh jasmine-nya.
“Tujuh tahun lima bulan,” jawab Nola sedikit mendesah. Ia menghela nafas panjang sebelum kembali berkata, “dan sakitnya, pedihnya, masih sangat terasa.”
“Ah, yang benar?”
“Nola yang ada di depanmu, adalah Nola yang berusaha keras menyembunyikan sakit itu, Yas,” gumam Nola. Wangi kopi yang ada di hadapannya, membuat Nola mengambil gelasnya. Seteguk kopi pahit meluncur masuk ke dalam tenggorokannya.
“Tapi kau baik-baik saja kan?”
“Dulu aku sepertimu. Berpikir bahwa ada jutaan janda di luar sana, hidup baik-baik saja. Mereka bisa menjadi orangtua tunggal untuk anaknya, bisa menghidupi hidupnya dan anak-anak mereka, bisa hidup di lingkungan mereka. Sama seperti hari-hari saat mereka menikah. Malah aku melihat mereka hidup dengan gembira. Sesuatu yang kulihat hanya di permukaan,” ujar Nola lirih.

“Tapi itu berbeda ketika aku sendiri yang mengalaminya. Menjadi janda itu saja sudah berat, Yas. Orang-orang akan menilai kalau kita ini adalah manusia gagal, manusia yang tak bisa memahami orang lain dan manusia yang tak bisa hidup dengan orang lain. Lalu mereka akan mulai menghakimi, tanpa mengerti duduk masalahnya. ‘Ah, pasti dia kurang pandai melayani suaminya’, ‘ah, dia pasti tidak sabaran’, ‘dia mah gampang dibodohi jadi suaminya selingkuh kali’ dan ribuan penghakiman lain yang akan membuat dada seakan ingin meledak. Belum lagi harus menghadapi mata yang curiga, mata yang mengintimidasi seakan-akan kehadiran seorang janda akan menjadi virus yang mematikan bagi masyarakat di sekelilingnya. Saat kita hidup dengan cukup, mereka akan berkata ‘yah pasti mantan suaminya yang ngasih tunjangan tuh,’ atau ketika kita hidup dengan berlebih, mereka akan berkata ‘heran kok jadi janda hidupnya malah senang, kerjanya apaan tuh? Jangan-jangan dicerai karena selingkuh dan suka nyari cowok lagi’ tapi anehnya ketika kita hidup susah, malah mereka juga mencemooh ‘sudah tahu gak bisa nyari uang, kenapa cerai? Dasar bodoh!’ dan lingkaran setan itu takkan pernah berhenti melingkupi kehidupan seorang janda. Sampai kapanpun.”

Tyas terdiam. Nola memang tak pernah berkata apa-apa selama ini tentang perasaannya soal perceraian yang terjadi dulu. Dulu ketika bercerai, Nola hanya menangis dan Tyas hanya mampu memeluk serta menguatkannya dengan memintanya sabar. Namun, Tyas juga tahu kata-kata Nola benar. Dia juga sempat mendengar kata-kata sejenis itu. Dari ibunya sendiri yang pernah mengatakan, “Temanmu itu bodoh sekali, Yas. Suami kaya dan ganteng seperti itu kok digugat cerai. Kalau laki-laki selingkuh harusnya diselidiki dulu masalahnya. Jangan apa-apa main cerai! Siapa tahu hanya informasi palsu.”

Saat itu Tyas langsung meminta Ibu untuk tak menyalahkan Nola. Kalau bukan karena melihat sendiri, tentu Nola takkan mungkin menceraikan Rafli. Ibu masih membela mantan suami Nola, tapi Tyas meminta Ibu untuk tak mengucapkan apapun lagi tentang perceraian sahabatnya itu. Seperti Tyas yang juga tak pernah berani menyinggungnya… sampai saat ini.

“Apalagi kalau sudah punya anak-anak. Itu yang paling… paling terberat. Ada saat aku pengen kembali pada mantan suamiku hanya untuk mengatakan apapun yang terjadi aku memaafkannya asal dia kembali menjadi ayah sepenuhnya untuk anak-anak. Ada saat aku berpikir untuk menikahi siapapun yang melamarku saat itu, asalkan dia punya gaji yang cukup untuk menyekolahkan anak-anakku. Memang masalahnya bukan hanya uang. Anak-anak membutuhkan segalanya, Yas. Tidak hanya uang untuk sekolah dan hidup mereka, tapi juga kasih sayang yang lengkap dari orangtuanya. Bagaimana itu bisa terjadi ketika mereka harus hidup terpisah dengan salah satunya?” lanjut Nola.

“Aku memilih mengambil raport anak-anak, lebih cepat atau lebih lambat dari waktu seharusnya. Pekerjaan kujadikan alasan dan untunglah guru anak-anak selalu mengerti. Kamu tahu kenapa alasannya?” Mata Nola berkaca-kaca. “Karena aku iri, iri melihat orangtua yang datang berpasangan, memuji prestasi anaknya sementara anak-anakku….”
“Bukankah Mas Rafli beberapa kali datang ke sekolah, La? Setahuku kalau soal urusan anak, Mas Rafli selalu bekerja sama denganmu,” tukas Tyas.

Nola tersenyum samar. “Itu setelah putri kami tidak naik kelas dan ia masuk rumah sakit karena depresi. Kalau Nurul tak memberitahu perasaannya soal perceraian kami ke psikiater yang menanganinya, mungkin kami takkan pernah sadar kalau perceraian itu tak hanya mempengaruhi kami berdua, tapi juga anak-anak. Sekarang Mas Rafli sepakat untuk ikut serta dalam pendidikan anak-anak, dengan syarat kami tidak datang berdua. Istrinya yang sekarang akan keberatan.”

Tyas kembali terdiam. Nola meraih gelasnya dan meminum beberapa teguk. Tenggorokannya terasa kering setelah mengisahkan seluruh derita yang selama ini ia simpan dalam-dalam.
“Tak ada yang tahu sakitnya menjadi janda, sampai ia menjadi janda. Tapi tak ada salahnya mendengarkan sahabatmu ini, Yas. Cukup aku yang mengalaminya. Cobalah untuk memperjuangkan pernikahanmu. Clear-kan masalahmu sejelas-jelasnya. Jangan berasumsi negatif apalagi bercerai karena asumsi tanpa bukti itu. Mintalah pendapat dari berbagai pihak, jika pikiranmu buntu. Mungkin saja, pendapat itu akan lebih membantumu. Pikirkanlah dengan matang, sejauh mungkin andaikan kata kau bercerai. Akan ada banyak kata ‘sanggup’ yang harus kau lakukan dan itu mungkin termasuk… “

“Apa?” sambar Tyas cepat.
“Memperbaiki genteng atau bahkan mengganti sekring. Kamu sudah bisa?” tanya Nola dengan dahi bergerak naik. Ia tahu benar sifat manja sahabatnya ini. Sifat yang sering dikeluhkan suaminya dulu saat mereka belum menikah dan masih teman kuliah.

Pertanyaan Nola membuat Tyas terdiam lagi. Bagaimana mungkin? Jangankan memperbaiki genteng atau mengganti sekring yang putus, selama ini kalau ada kecoa lewat saja dia sudah teriak-teriak memanggil suaminya. Tyas baru ingat, sepanjang pernikahan ia sangat bergantung pada suaminya. Bahkan sebelum bertemu Nola tadi, Tyas minta diantar jemput oleh suaminya. Sesuatu yang tak pernah dipikirkannya selama ini.

“Pikirkan ya… pikirkan baik-baik, temanku sayang. Pikirkan anak-anakmu, dan dirimu sendiri. Kalau suamimu menyakiti fisikmu, akulah orang pertama yang akan memintamu menceraikanmu. Tapi tidak kan? Cobalah mencari solusi lain selain bercerai. Katanya, kalau satu pasangan bisa berbaikan lagi, hubungan mereka akan lebih baik daripada sebelumnya. Cobalah! Lakukan yang tidak kulakukan dulu!”

Tyas tak menjawab, ia hanya mengangguk. Ia memahami kini apa yang dimaksud Nola. Kalau memang Mas Karim menduakannya, ia akan tetap berjuang sekeras mungkin mempertahankan pernikahannya dengan mencari solusi yang lebih baik selain berpisah. Bukan karena takut menjadi janda, tapi karena ia tak ingin menyesali keputusannya seperti Nola. Kalau memang harus berakhir, Tyas akan menerimanya sekaligus berusaha menghadapi konsekuensinya. Tanpa ada penyesalan.

Menjadi janda bukanlah pilihan, tapi satu solusi. Solusi yang pahit. Solusi yang memiliki banyak konsekuensi. Konsekuensi yang harus diperhitungkan dengan sebaik mungkin.(Sumber Blog : Bunda Iin)


Senin, 21 Desember 2015

Kisah Pengorbanan Seorang Ibu

Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, tahun berapaan udah lupa. Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronik. Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah dipromosikan ke posisi manager. Gajinya pun lumayan.Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor.

Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman2 kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewe2 jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.
Di rumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul2 seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting.
Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be. Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan routine layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya.
Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. “Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan.” jawab A be. Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya.
Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali). Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan di rumah.
Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari ibunya, A be melihat sebuah box kecil.
Di dalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah.
Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya.
Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa dibendung. Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang ibupun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. “Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di ungkit lagi”. Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja ke supermarket.
Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini ke dalam media cetak dan elektronik. (sumber : https://www.facebook.com/permalink.php?id=213027188827839&story_fbid=252347591562465)


Rabu, 16 Desember 2015

Bank Indonesia Selenggarakan Culture Fair

Dalam rangka selebrasi pencapaian program transformasi dan perubahan budaya kerja tahun 2015, Bank Indonesia menyelenggarakan sebuah acara yang cukup menarik yaitu “CULTURE FAIR”.



Acara ini diadakan di Plaza Air Mancur Kantor Pusat Bank Indonesia, pada tanggal 16 s.d 18 Desember 2015. Diikuti oleh berbagai Satuan Kerja yang ada di Bank Indonesia dengan menampilkan fasilitas  up to date yang mendukung program kerja Satker masing-masing.


Setiap booth Satker menampilkan setiap karya nyata perubahan, mulai dari perubahan proses bisnis, mindset sampai dengan perilaku budaya kerja.


Pada booth Nampak aktifitas menarik, mulai dari performance kreatif, bermain interaktif, sampai dengan merasakan keseruan games tantangan perubahan.


Pegawai nampak sangat antusias mendukung Satkernya untuk memenangkan change program award, innovation award dan change leader award. Terlihat dari banyaknya pengunjung  yang memnuhi berbagai booth.



Rencana kegiatan selama culture fair berlagsung adalah : Flasmob, Tari Kolosal, Pertunukan Musik, Awarding Night, Community Lounge, Interaktif Games, Shadow Dance, Video Mapping (permainan cahaya), Aspiration Box dan tersedia juga food zone dengan berbagai menu sensasi kekinian






Dalam lomba change leader dan change agent, peserta sangat bersemangat sekali tampil berbalut pakaian adat membawakan inovasinya. Hampir semua inovasi yang diciptakan diperuntukan bagi kepentingan masyarakat, dalam memudahkan menyelesaikan masalah perbankan yang berhubungan dengan Bank Indonesia. Teristimewa adalah Tim juri yang terdiri dari Anggota Dewan Gubernur BI, Remadja Tampubolon dan Charles Bonar Sirait.


Minggu, 13 Desember 2015

Konser Mini "JAZZFORMATION"

Agenda besar yang akan ditampilkan oleh Pusat Progran Transformasi Bank Indonesia (PPTBI) adalah merangkul kaum Gen Y di BI dengan menyelenggarakan acara musik secara rutin, yang rencananya akan dilakukan setiap tiga bulan sekali. Hal ini boleh dibilang sesuatu yang baru, apalagi dilaksanakan setelah jam kerja dikantor selesai.



Mengawali kegiatan ini pada hari Jum’at tanggal 11 Desember 2015 bertempat di Lobby Menara Syafruddin Prawiranegara KPBI, PPTBI menyelenggarakan konser jazz mini ala BI, yang diberi nama “JAZZFORMATION”.

Hadir dalam kegiatan tersebut Onny Widjanarko, Kepala PPTBI yang juga merangkap Ketua IPEBI beserta jajarannya, dan beberapa artis lokal BI yang masih dalam tarap belajar menyelenggarakan konser. Hal ini terlihat dari vokalis yang membawakan lagu-lagu dengan malu-malu, semuanya dalam posisi duduk dan menghapal syair lagu pada standing book yang tersedia.



Jazz memulai konser mini ini, karena menurut sejarahnya dahulu di negara asalnya musik jazz tumbuh berasal dari kaum kelas bawah, yang telah mendapat suntikan dari berbagai aliran musik dan polesan para musisi terkenal sehingga bertransformasi menjadi musik elit saat ini. 

Ini suatu langkah berani yang di gebrak PPTBI untuk membawa masyarakat BI ke dalam transformasi, yang saat ini sedang dilakukan secara besar-besaran menjelang tahun 2024. Tiga bulan kedepan PPTBI merencanakan aliran jenis musik lain untuk ditampilkan, sehingga semua penggemar musik di BI dapat menumpahkan segala kemampuannya.



Semoga hal ini memberi dampak yang positif bagi perkembangan musik di BI, setidaknya ada upaya yang bagus mengapresiasi permusikan dan budaya baru di BI, apalagi berbagai jenis musik yang akan ditampilkan selalu berbeda, sehingga selalu akan kita lihat berbagai performance yang berbeda pula.

Dengan kontinuitas setiap tiga bulan  dan tempat yang ikonik, diharapkan nantinya pada event ini musisi BI akan membuat konsernya menjadi baik dan menarik serta kekinian, dalam mendorong proses bertransformasi.


Kamis, 10 Desember 2015

Benchmarking Record Management PT Garuda Indonesia ke BI

Arsip Bank Indonesia kembali menjadi tempat untuk instansi atau lembaga lain melakukan benchmarking, banyak hal dapat dipelajari melalui kunjungan ini mulai dari kepemimpinan, transformasi, budaya kerja. Kali ini giliran PT Garuda Indonesia, pada hari Kamis tanggal 10 Desember 2015 melakukan benchmarking ke Divisi Pengaturan dan Pengelolaan Kearsipan Bank Indonesia (Divisi Arsip).



Rombongan dipimpin oleh Sadwari Budi Sarwindah yang akrab dipanggil Endah, Senior Manager Documentation & Record Mangement PT Garuda Indonesia, “Kunjungan kami ke BI bertujuan untuk  mencari inspirasi, terkait inovasi dalam aspek pelayanan, menambah wawasan dan pengetahuan tentang bisnis proses, organisasi dan standar operasi terkait dokumen perusahaan, karena kearsipan BI sudah tersertifikasi”, tutur Endah.




Saat menerima rombongan Rini Andriani Pejabat Kepala Tim Divisi Arsip BI, meyampaikan bahwa dimasa dulu dan sekarang pelayanan keasripan BI telah banyak berubah mengikuti perkembangan teknologi informasi menjadi customer oriented. Berdasarkan perubahan paradigma tersebut terbentuklah transformasi dan terciptanya inovasi-inovasi baru yang fokus pada akses kearsipan yang lebih mudah dan cepat. Mulai dari pemberkasan hingga meng-upload-nya ke sistem BI-RMS.




Kegiatan diawali dengan knowledge sharing meliputi aplikasi sistem kearsipan dan Manajemen Dokumen BI dipandu oleh Tri Arso Purnomo, pengelolaan Sentral Khazanah Arsip (SKA) KPBI oleh Andar Mulyana. Pengelolaan SKA ini menurut peserta penting disampaikan, karena sangat mendukung proses pencarian dan pengadministrasikan penerimaan arsip dari Satuan-satuan kerja dengan menggunakan Bank Indonesia Sistem Aplikasi Pengelolaan SKA (BI-SASKA).



Setelah istirahat makan siang dilakukan on the spot ke SKA yang berada di Gedung Arsek, mulai dari lantai empat sampai dengan enam, kemudian dilanjutkan penjelasan Road To ISO oleh Ibu Sri Yulistiani (Kepala Divisi Arsip BI). Peserta benchmark sangat antusias dalam mengajukan pertanyaan, terutama mengenai aplikasi yang telah diterapkan BI. Diskusi yang berlangsung sejak pagi sampai dengan pukul 15.30 WIB, dirasakan sangat bermanfaat oleh peserta sebagai masukan untuk Garuda.



Menurut Endah, dengan dilakukannya benchmarking ini, PT Garuda berharap akan semakin meningkatkan pelayanannya, hasil dari kegiatan ini sangat mendorong PT Garuda untuk melakukan pengembangannya di bidang record management karena Garuda tidak salah memilih BI yang telah mempunyai pelayanan kearsipan yang up to date. Sehingga pengetahuan yang dimiliki oleh pegawai PT Garuda Indonesia dapat dikembangkan serta dapat diutilisasi, kemudian disebarkan keseluruh karyawan perusahaan.





Selasa, 08 Desember 2015

Perasaan

Tolong di ingat ya….!
Perasaan itu nggak selamanya bisa bertahan
Perasaan itu bisa hilang kapan saja
Kerna kamu sudah tidak menghargaiku lagi

Terima kasih karena kamu telah mengisi hari-hariku
Yang semula putih kini telah menjadi berwarna
Bahkan sekarang warnanya menjurus menjadi abu-abu kelabu

Biar begitu kenapa sih aku selalu mengharapkanmu
Padahal yang ku dapat hanya perasaan luka

Mangkanya sekarang aku ingin belajar di derasnya hujan

Agar semua orang tidak tahu kalau aku sedang menangis.

Senin, 07 Desember 2015

Seminar Nasional Kearsipan "Peran Strategis Tatakelola Dokumen Elektronik"

Sebagai salah satu lembaga negara yang memiliki berbagai prestasi di bidang kearsipan, Bank Indonesia (BI) memiliki visi standar arsip yang berkelas dan berstandar dunia. Oleh karena itu secara intensif BI perlu melakukan sosialisasi tentang kearsipan khususnya “Penggunaan Dokumen Elektronik (DE)”, guna menjadikan arsip sebagai bukti akuntabilitas, bukti sah dan tulang punggung organisasi.




Untuk mewujudkan visi tersebut, BI menggelar Seminar Nasional Kearsipan dengan tema “PERAN STRATEGIS TATAKELOLA DOKUMEN ELEKTRONIK” pada hari Selasa tanggal 8 Desember 2015, bertempat di Ruang Serbaguna Menara Syafruddin Prawiranegara, Kantor Pusat Bank Indonesia.

Diadakannya seminar ini adalah untuk memberi wawasan, wacana, pengetahuan dan sebagai sarana knowledge sharing bagi para pengguna Dokumen Elektronik sesuai dengan ketentuan dan perundang-andangan yang berlaku.




Acara dibuka oleh Ibu Suzanna G Hamboer, Kepala Grup Pengamanan dan Arsip KPBI. Dalam sambutannya beliau meyampaikan bahwa telah banyak institusi menggunakan teknologi informasi dalam kegiatan operasionalnya. Kemajuan teknologi ini telah melahirkan informasi elektronik dan dokumen elektronik. Agar dokumen elektronik tersebut memberi manfaat yang lebih optimal maka para penguna dokumen elektronik harus memamahi tatakelola dokumen elektronik dengan baik, benar sesuai dengan standar praktek terbaih (best practice) dan perundang-undangan. Hal ini dimaksudkan agar dokumen elektronik bener-benar otentik, sehingga dokumen elektronik dapat diakui dan digunakan sebagi alat bukti dipengadilan. Oleh karenanya peran strategis tata kelola dokumen elektronik sangat penting dipahami guna menghindari adanya contra productive dan menimbulan masalah dikemudian hari.




Bertindak selalu moderator adalah Sri Yulistiani (Kepala Divisi Pengaturan dan Pengelolaan Kearsipan Bank Indonesia), sedangkan  nara sumber yang ditampilkan adalah Drs M Taufik MSi Deputi Bidang ANRI mengupas tentang Undang-undang no 43 tahun 2009, Dr Pri Pambudi Teguh, SH, MH pejabat Panitera Muda Perdata Mahkamah Agung berbicara tentang Pemanfaatan Dokumen Elektronik Dalam Penanganan Perkara di MA, Anthonius Malau Kepala Bagian Hukum dan Kerjasama Ditjen Aplikasi Informatika Kemkominfo RI membawakan Peran Strategis Tatakelola Dokumen Elektronik dan Perspektif UU ITE, Taufik Asmiyanto M.Si Ketua Program Studi  Manajemen Informasi dan Dokumen Program Vokasi Universitas Indonesia menyampaikan kajian Quo Vadis Manajemen Arsip Elektronik di Indonesia.




Dihadiri oleh sekitar 200 peserta termasuk undangan dari Perbankan, Institusi BUMN, Unit Kearsipan Pemprov DKI, Akademisi, Perbarindo, Perbanas, Asosiasi Arsip Indonesia dan Satuan Kerja Bank Indonesia. Latar belakang diselenggarakannya seminar ini, mengingat perkembangan teknologi informasi dan globalisasi telah mengubah perilaku masyarakat maupun peradaban manusia secara global. Sehingga banyak lembaga dan institusi telah menggunakan teknologi informasi dalam kegiatan operasionalnya sebagai sarana manajemen informasi, transaksi dan komunikasi yang melahirkan informasi elektronik dan dokumen elektronik. Sehingga dokumen elektronik tersebut memberi manfaat yang lebih optimal sebagai alat bukti yang sah dipengadilan, oleh karenanya perlu wacana terkait tatakelola, pemahaman dan pengetahun tentang dokumen dimaksud.




Dokumen elektonik adalah  setiap informasi elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui komputer atau sistem elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.




M. Taufik dari ANRI menyampaikan bahwa penlenggaraan kearsipan bertujuan menjamin terciptanya kegiatan kearsipan yang dilakukan oleh sebuah lembaga, tersedianya arsip yang otentik, terpercaya sebagai alat bukti yang sah. Serta menjamin perlindungan kepentingan negara dan hak-hak keperdataan rakyat, mendinamiskan sistem yang komperehensif terpadu,  menjadi bukti pertanggungjawaban, keselamatan aset nasional dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.




A borderless, Invincible, Cyber Connected”, demikian ungkap Anthonius Malau dari Kemkominfo mengawali pembicaraannya sebagai narasumber dalam seminar tersebut. Kegiatan dunia maya telah merubah transformasi sosial budaya hampir diseluruh penjuru dunia. Mulai dari etika, pengetahuan, regulasi, pembangunan, hukum dan aktivitas lainnya. Seperti adanya e-commerce, e-banking, cyber notary, e-voting dll.




Hal tersebut di Indonesia, kini diperkuat dengan diberlakukannya Undang-undang no 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Yang melatar belakangi undang-undang tersebut diciptakan adalah karena UUD 45 Pasal 28, yang melindungi sistem informasi yang baik, terjaga dan utuh (security dan integrity). Undang-undang ini melindungi serangan (attack), penyusupan (intruder) atau penyalahgunaan (misure), dengan membuat aturan yang secara teknis melakukan tatakelola kegiatan yang terkait informasi transaksi elektronik, sesuai dengan aturan hukum.




Pemanfaatan TI dan transaksi elektronik bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia, meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik, memajukan pemikiran dan kemampuan di bidang penggunaan dan pemanfaatan teknologi seoptimal mungkin serta bertanggung jawab, memberikan rasa aman, keadilan dan kepastian hukum bagi pengguna TI.




Sedangkan Taufik Asmiyanto akademisi dari Universitas Indonesia berpendapat bahwa melihat konstelasi dokumen elektronik dalam kancah pertarungan kuasa hukum pembuktian, jelas menyadarkan kita bahwa pengembangan sistem manajemen dokumen elektronik yang terpercaya dan akuntabel dalam tata kelola kearsipan nasional adalah sebuah tuntutan. Kegagalan dalam menghadirkan dokumen elektronik sebagai bukti hukum di masa depan tidak perlu terjadi sehingga tidak ada pihak-pihak yang dirugikan. Dalam membangun sistem ini jelas diperlukan sinergi positif dari pihak terkait dengan mendasarkan pada pengalaman-pengalaman negara yang telah menerapkannya dan kajian-kajian akademis lintas disiplin.




Diskusi-diskusi ilmiah pragmatis lintas disiplin secara berkelanjutan perlu dirancang agar hasil kajian akademis dapat dipaparkan dan dapat menemukan manfaat praktisnya. Sehingga tujuan mengembangkan sistem manjemen arsip elektronik untuk memastikan bahwa arsip sebagai hasil aktivitas transaksi organisasi dapat tersedia saat diperlukan. Ketersediaan ini dimaknai bahwa sistem yang ada harus mampu menjaga keaslian dan keutuhan isi dari informasi arsip itu, dengan mempertahankan kontrol intelektual arsip, yang mencakup informasi konstektual yang memadai dapat menghadirkan provenans, konteks dan struktur arsip dan manajemen arsip mempunyai karakteristik otensitas, kehandalan, integritas dan kegunaan. Sehingga arsip elektronik yang dihasilkan merupakan arsip organisasi yang professional, akuntabel, integritas dan inovatif.