Jumat, 22 Mei 2015

Ngintip Dapur Pembuatan Tas "Dowa"


Tas adalah Wanita, Wanita adalah Tas…. Itulah semboyan dari Mbak Delia Murwihartini owner “Tas Dowa”, yang memicunya untuk terus berkarya membuat tas yang selalu diburu kaum hawa.



Sebuah kesempatan yang jarang ditemui dapat mengunjungi tempat produksi dan juga showroom Dowa di Godean Yogyakarta. Tempatnya  sangat inspiring dan excited banget, bukan hanya konsumen yang mau membeli tas diberi pelayanan terbaik, bagi driver yang membawa tamu pun dapat menunggu majikannya dengan nyaman. Mereka disediakan tempat yang lengkap dengan snack lokal dan air mineral secara gratis.  



Memasuki tempat Tas Dowa yang pertama kali dikunjungi sudah pasti showroom, dimana terdapat banyak sekali tas yang dipajang pada display hasil produksi. Penampilan display ini sungguh menarik dan membuat kesan tas dowa menjadi mewah dan glamour. Saat itu secara nggak sengaja aku melongok kebelakang, ternyata disana terdapat ruangan produksi yang dihuni banyak pekerja, lebih dari seratus orang.



Ada yang bertugas menyiapkan benang nylon, membuat pola, menjahit, mengelem, merajut, memasang resleting, memasang daleman, merangkai, pengecekan kulitas kulit, packing dan petugas supervisor (Pak Samidi) yang mengontrol hasil pekerjaan para pegawainya.  Supaya mutu tetap terjaga dan penampilan dari barang yang dihasilkan nggak mengecewakan.



Apalagi pangsa pasar tas Dowa sejak tahun 1994 s.d 2004 adalah ekspor ke Amerika dan Eropa, sehingga pengerjaannya sangat detail agar tak ada barang yang sudah dikirim reject cetusnya. Yang dipakai sebagai bahan dasarnya adalah nylon lokal yang mutunya terjamin, dilengkapi dengan hardware atau asesoris tas berbahan stainless agar tak mudah rusak atau berkarat. Sejak tahun 2004 Dowa menancapkan kukunya kepasar dalam negeri.



Didalam negeri walaupun harga tas ini terbilang lumayan mahal namun ternyata peminatnya cukup tinggi. Mungkin ini disebabkan karena kulaitas yang baik dan setiap wanita tak hanya cukup memiliki satu buah tas, kaum hawa harus menyesuaikan tas dengan aksesori lain. Wanita mana yang nggak kalap melihat tas Dowa. Modelnya cantik dan uptodate,  dibuat disebuah desa di kota Yogyakarta. Siapa sangka, dari tangan-tangan orang desa-lah tas lokal ini bisa membawa nama harum produk dalam negeri ke seantero dunia. Ternyata, tas Made in Indonesia pun nggak kalah dengan tas ber-merk buatan asing.


Tas dengan desain Yogya asli, sederhana, rajutan etnik, unik, handmade warna-warna natural.  Tas Dowa sangat bervariasi model dan warnanya. Untuk produk tas sendiri, Dowa memiliki beberapa macam tipe tas, yaitu faith, great year, grazie, optimist. Selain tas, dowa juga menyediakan aksesoris, scarf, dompet dan sebagainya.


Nama Dowa sendiri diambil dari bahasa sansekerta yang artinya doa. Nama itu pun akhirnya sukses mengantarkan pemiliknya menembus pasar global, disukai konsumen luar negeri. Di Amerika, hasil karya pengrajin tas Dowa dipatenkan dengan merek “The Sak”, sementara di Eropa tas rajut ini tenar dengan merek “The Read's”. Soal kualitas rajutan merupakan warisan nenek moyang yang memiliki nilai artistik tinggi. Tak heran tas dengan merek dagang The Sak dan The Read’s berhasil melanglang buana. Sementara tas dengan merek dagang Dowa, lebih dikenal di pasar lokal.


Apa beda Tas Dowa dengan The Sak? Keduanya hampir sama, hanya saja jika Dowa ada tambahan aplikasi logam dan kulit, The Sak full rajutan so lebih natural. Peminat barang ini nggak bisa mendapatkan tas ini sembarang toko, selain pembuatannya limited edition, toko yang menjualnya juga terbatas. Hal tersebut justru menjadi nilai tambah pada eksklusifitas tas rajut ini.

         
Bagi sebagian besar wanita, model tas merupakan salah satu ajang untuk “pamer” segala sesuatu. Mulai dari dandanan, baju yang dikenakan, sampai pada tas yang dibawa.  Bagi kaum hawa yang gemar gonta ganti tas dengan berbagai merk, jenis, warna dan model terbaru, tentunya sudah nggak sabaran ingin menambah lagi koleksi tas dengan kualitas yang lebih bagus, mewah, unik dan menarik. Jika ngeluyur ke Yogyakarta, jangan lupa mampir ketempat pembuatan tas ini. Kita diperbolehkan masuk kedalam dapur, selain berbelanja kita pun disuguhi kudapan tradisional atau lebih kerennya jajan pasar. Jangan takut kuno atau ndeso, justru model rajut selalu uptodate. Daripada memakai produk import atau pura-pura import, mengapa kita nggak memakai hasil karya bangsa sendiri aja.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar