Rabu, 13 November 2013

Meng-Install Anak

Dalam dunia pendidikan banyak sekali penawaran-penawaran instan yang menjanjikan anak bisa dengan cepat menguasai materi pelajaran sekolah. Misalnya saja les privat, game-game pelatihan bahkan sampai terapi. Sebagai orang tua sudah sepatutnya mengupayakan hal tersebut. Pertanyaannya: apakah semuanya harus di berikan ke anak? Sebuah pertanyaan yang sangat membukakan pikiran dan aku yakin banyak kontroversi dengan jawaban kita yang disertai berbagai alasan. Saat menemani teman untuk mempromosikan sebuah methode teraphy di sebuah sekolah aku mendengar satu kalimat yang keluar dari seorang guru.
 “Kalo saya mau, ya.. anak saya pasti mau” sambil memilih paket teraphy yang guru itu inginkan.
 
         Anak merupakan harta yang sangat berharga dalam sebuah rumah tangga karena salah satu tujuan menikah adalah mendapatkan keturunan. Untuk itulah kita sebagai orang tua sudah seharusnya menjaga dan memberikan bekal pendidikan secukupnya. Dalam pembekalan pendidikan inilah yang harus kita waspadai dan cermati. Setiap orang tua menginginkan anaknya pandai, cerdas berdasarkan IQ yang merupakan tolak ukur kecerdasan anak. Bahkan sampai sehari penuh mereka diberikan pendidikan formal dan non formal agar pemikiran mereka berkembang. Yang diinginkan orang tua adalah agar pandai dengan alasan demi kebaikan masa depan.


      Harus ada yang kita luruskan disini. Melihat dari perkataan guru diatas aku memeperoleh kesimpulan ternyata anak harus ikut keinginan orang tua, apa yang orang tua inginkan anak harus mau, bahkan sampai paket-paket atau pendidikan apapun yang orang tua sukai anak harus ikut. Sekali lagi dengan alasan “demi masa depan anak…”. Ketahuilah anak bukanlah robot yang selalu di-install program yang sesuai dengan keinginan pembuatnya. Anak adalah anugrah  Tuhan yang telah diberikan (Given) keunikan, kelebihan dan kekurangan dan sifat-sifat yang genetik melekat dalam dirinya. Dengan given tersebutlah anak akan menentukan sikap, ilmu yang dia sukai, lingkungan, dan keinginan untuk mesa depan mereka.


 
        Betul, tugas kita adalah mendidik dan merawatnya hingga dia bisa mandiri. Dalam hal inilah seringkali orang tua lupa dan tidak sadar bahwa setiap anak mempunyai kelebihan, kekuatan dan potensi yang berbeda dengan orang lain. Kebanyakan orang tua hanya berfikir tentang kecerdasan otak saja tanpa mau tahu sebetulnya apa yang menjadi dasar kekuatan yang anak itu miliki. Dasar kekuatan inilah yang akan menjadikan anak survive dalam diri dan lingkungannya bukan diciptakan lingkungan atau atas dasar keinginan orang tua. Sungguh ironis pemikiran yang masih seperti ini.
 
        Berikanlah jalan yang terbaik, berikanlah stimulus yang cocok dan desainlah anak kita sesuai dengan kekuatan yang dia punya. Dengan begitu maka mereka akan merasa enjoy, nyaman dan mudah dalam mengembangkan dirinya. Jadi tahap pertama yang harus orang tua lakukan sebelum mendesain hidup anak adalah menemukan kelebihannya. Karena kelebihan yang dibawa sejak lahir ini tidak akan hilang hingga akhir hayat nanti. Dan inilah kekuatan yang Tuhan berikan kepada kita.(Galuh Sulistyo)

Selasa, 12 November 2013

Pede Aja Kali.....!

Pernah merasa nggak pede? Pernah merasa nggak bisa ini dan itu? Pernah merasa mempunyai kemampuan di bawah teman? Sekarang kita sama-sama mengakui bersama “Iya, aku pernah merasakan itu semua. Tapi aku yakin bahwa aku akan menjadi pribadi yang lebih baik dari yang terbaik mulai detik ini.”

“Kita sering merasa ga pede karena kita tidak biasa”
Siapa yang terbiasa berbicara bahasa inggris dalam kesehariannya, dia akan pede ketika berbicara bahasa inggris dengan siapapun baik orang bule apalagi pribumi. Siapa yang terbiasa berbisnis, dia akan pede menghadap kegagalan dan kesuksesan bisnisnya. Siapa yang terbiasa menulis, dia akan pede mem-publish tulisannya. Jadi buatlah kebiasan-kebiasaan sendiri. Kebiasaan yang memang menjadi kesukaan kita. Kebiasaan yang bisa memberikan manfaat buat diri sendiri, dan orang lain.


 “Kita sering merasa nggak bisa ini dan itu karena kita malas belajar”
Siapa yang ingin bisa berjalan, maka dia harus belajar berjalan, walaupun dari tahap merangkak dulu. Siapa yang ingin bagus dalam membaca Al-Quran, maka dia harus belajar dengan orang-orang yang bagus dalam membaca Al-Quran. Siapa yang ingin bisa menjadi motivator, maka dia harus belajar kepada motivator yang sudah sukses.

Fas aluu ahladzikri inkuntum laa ta’lamuun. Belajarlah sesuatu kepada ahlinya. JIka ingin bisa ini dan itu, banyak-banyaklah belajar. Tapi ingat, spesialisasi itu mahal, maka perdalamlah satu bidang yang kita sukai dengan baik. Belajar bisa dengan cara apa saja, dari mana saja, dan kapan saja. So, jangan masih punya alasan buat nggak bisa ini dan itu?

“Kita merasa mempunyai kemampuan di bawah teman kita karena kita sering meremehkan diri sendiri”
Ini bener-bener penyakit diri kita yang harus kita hilangkan secara bertahap. Kenapa bertahap? Karena mungkin secara tidak sadar kita sudah menanam bibit meremehkan diri sendiri dari kecil. Contohnya, ketika guru SD kita mulai berdiri di depan kelas sambil bertanya “siapa yang ingin memimpin doa di depan kelas hari ini?”, kita semua langsung nunduk dan suka main tunjuk-tunjuk orang lain. Betulkan ternyata kita udah pernah menanam bibit meremehkan diri sendiri itu dari kecil? Oke sekarang tugas kita adalah menghilangkannya secara bertahap.


Ini ada sedikit tips atau cara untuk mengobati penyakit itu, pertama sering mengulang-ulang kata atau kalimat yang memotivasi diri sendiri. Kedua  pede jadi diri sendiri dan harus jujur. Ketiga gambarkan mimpi kita dan berusaha sabar melalui cara-cara meraih mimpi tersebut sesuai keinginan. Keempat belajar, belajar, belajar, belajar. Kelima berdoa, mendoakan, dan minta doa

Ayo bersama menjadi generasi yang PEDE! PEDE akhlak, PEDE ilmu, PEDE harta, PEDE tahta, dan PEDE cinta, “Jangan pernah remehkan impianmu, karena dia bibit kenyataan. Allah Maha Mendengar.” (Rizqi Rangga Aufar)



Senin, 11 November 2013

Jangan Tinggalkan Sisa

Salah satu hal yang menjengkelkan adalah saat saya ke toilet umum kemudian ada “sisa” orang sebelum saya yang tidak disiram. Saya sering bergumam dalam hati, orang ini benar-benar egois, meninggalkan “sisa” yang tidak baik dan orang lain yang harus membersihkannya.
Buang hajat di toilet umum seharusnya tak hanya memikirkan diri sendiri. Ketahuilah, apabila Anda sembarangan melakukannya, orang yang setelah Anda akan terkena najis. Dengan kata lain, Anda mempersulit orang itu bisa bebas beribadah akibat tubuhnya terkena najis karena ulah Anda.

Buang hajat memang urusan pribadi Anda. Tetapi bukan berarti Anda bebas melakukannya tanpa mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan oleh ulah Anda itu. Jangan sampai Anda lega bisa membuang kotoran Anda namun meninggalkan “sisa” bagi orang sesudah Anda.
Hal lain yang juga menyesakan dada saya adalah apabila melihat sisa makanan di piring, baik itu di restoran, hotel atau tempat pesta. Memang mungkin Anda sudah membayar atau makanan itu dihidangkan cuma-cuma buat Anda. Tetapi ingatlah, di balik makanan sisa itu ada jerih payah dan tetesan keringat para petani.
Para petani harus merawat dan menunggu berbulan-bulan agar panennya berhasil. Para petani harus menjaga tanaman dari serangan hama dan penyakit. Terkadang mereka berkirim doa khusus agar panennya tak gagal. Terkena terik matahari, mandi keringat dan kehujanan adalah hal yang biasa mereka nikmati demi hasil panen yang baik. Sungguh terlalu bila Anda tega menyisakan makanan tanpa beban sedikitpun di dalam pikiran dan hati Anda.
Ingat-ingat, di negeri ini masih banyak orang yang kesulitan untuk makan. Puluhan juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan masih sangat rentan kekurangan gizi. Beberapa suap nasi bagi mereka sangat berarti. Begitu tegakah Anda menyisakan makanan dengan percuma?
So, jangan terbiasa meninggalkan “sisa”. Sebab, perilaku tersebut merupakan cerminan bahwa Anda benar-benar egois tanpa Anda menyadarinya. Hidup bukan hanya tentang diri Anda. Hidup juga tentang orang-orang dibalik yang Anda makan dan juga tentang orang-orang sesudah Anda. Paham?(Jamil Azzaini)



Lampu Hijau

Seringkali kita melihat beberapa pengendara mobil atau motor dijalanan, pada saat lampu hijau masih menyala, mereka buru-buru untuk terus menancap gas ngebut. Bahkan jika di traffic light ada dibarisan belakang, nggak sabaran dengan membunyikan klakson, padahal lampu hijau baru 1 detik nyala. Tidak jarang ada pula yang masih berjarak belasan meter dari traffic light dikebut aja gasnya supaya gak kena lampu merah.

 
Saat lampu hijau yang menyala bukanlah seharusnya kita berpacu sekencang-kencangnya. Tapi justru ini adalah momentum mempersiapkan diri di saat menjelang lampu kuning atau lampu akan menyala. Supaya tidak terjadi kecelakaan.
 
Sama seperti dengan hidup. Lampu Hijau bisa kita ibaratkan sebagai masa hidup kita sekarang yang mestinya dengan bijak kita menjalaninya bukannya hanya asal “tancap gas” atau digunakan seenaknya saja. Karena kita sudah pasti suatu saat akan kita menemui Lampu Merah pada tempat dan waktu yang tidak kita duga.
 
Jika kita sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik dan rapi maka ketika lampu merah-pun kita bisa berhenti dengan santai dan nyaman, dibandingkan harus rem mendadak karena terburu-buru atau kaget melihat lampu sudah Merah”.
 
Andaikan masa hidup kita bisa seperti lampu merah yang ada countdown-nya seperti yang banyak kita lihat di jalanan jakarta saat ini maka kita akan lebih aware. Tapi walaupun ada pasti waktunya belum cukup untuk membenahi diri kita yang penuh bergelimang dengan dosa.
 
Marilah Sahabatku kita mempersiapkan diri dengan berbuat terbaik dan lebih banyak untuk Keluarga, Teman, Kerabat dan Negara kita. Sehingga ketika Lampu Merah kita sudah waktunya kita akan berhenti dengan santai dan damai..(Dwi Ishak)
 

Rabu, 06 November 2013

Just Memory

Aku mau keliling dunia, tapi nggak punya duit buat ongkos dan beli segala sesuatu yang diperlukan selama melakukan traveling. Nungguin dinas keluar negeri juga nggak mungkin, karena pangkatku cuma pegawai rendahan dikantor. Beda dengan pejabat di kantorku yang sering dinas karena ada tugas, ikut seminar, atau studi banding yang terkait dengan pekerjaan. Juga temen2 Pegawai yang masih baru namun latar belakang pendidikannya tinggi dan otaknya cemerlang sehingga kantorku, nggak segan2 ngeluarin biaya buat mereka sekolah  ngambil master di luar negeri.


Selama bekerja lebih dari 30 tahun, aku cuma mendengar pegawai lain yang melakukan perjalanan dinas dan belajar. Malahan kalau untuk disekolahkan mereka  ada yang bawa keluarga, bahkan dikasih cuti diluar tanggungan kantor. Ondeee.... enak banget ya. Apalagi kalau aku sendiri yang bisa ngejalanin, pasti banyak foto dan kisah atau cerita yang kutulis dan ku-share kepada kawan2 di tanah air. Mengenai kondisi dan keadaan negara yang kukunjungi atau juga mengenai kuliner yang ada disana. Pasti sangat menarik dan informatif banget.


Oh ya... kalau keluar negerinya cuma ke Singapur, Malaysia dan Thailand sih aku pernah, karena dulu selama 5 tahun,  1997 s.d 2002 aku tugas di Batam. Jadi setiap ada liburan, aku cuti bersama keluarga mengunjungi negara2 tersebut. Ketika itu anak2ku masih kecil-kecil, sekolahnya masih SD, jadi kalau diceritain bahwa mereka pernah kesana, mereka lupa. Apa iya....! katanya kok nggak inget dan nggak terasa bahwa kita pernah kesana. Tapi kalau diliatin fokto2nya dulu waktu jalan2 di Johor, Melaka, Kuala Lumpur-Malaysia dan Merlion Park di Singapur, mereka  baru nyadar kalau pernah ngunjungin negara tersebut.


Kalau ke Singapur diantara tahun itu, paling nggak aku 2 minggu sekali pasti pergi. Selain pergi buat weekend, aku juga sering ditugaskan untuk mengantar atau mendampingi Pegawai dari Kantor Pusat dan Kantor Perwakilan lain yang selesai tugas tapi ingin tour ke Singapur. Kalau nggak salah buku pasporku yang 48 halaman baru dipake 2 tahun aja sudah penuh, terus kuperpanjang lagi sampai aku pindah ke Padang tahun 2002. Mulai dari Pegawai yang se-level, sampai dengan yang tinggi bahkan pernah aku mendampingi rombongan beberapa BMPD dari Jawa Barat, Jawa Tengah yang lagi mengadakan studi banding di Batam terus mampir ke Singapur. Mereka nggak nginap tapi oneday tour, dan mereka yang ke Singapur rata-rata cuma shopping. Berangkat pagi jam 7 kembalinya jam 21 dari Pelabuhan Sekupang. Waktu itu belum ada pelabuhan Batam Centre, karena dipelabuhan Batam Centre masih dihuni pohon mangrove.


 Karena seringnya aku ke Singapur, hampir semua tempat kuliner, shoping centre, tempat wisata aku hafal. Mulai dari Lucky Plaza, Takashimaya, Paragon, Wisma Atria, Bugis Junction(Street), China Town, Kampung Arab(Arab Street),  Little India, Geylang, Pulau Sentosa, Rafles City, Katong, Haw Par Villa, Orchad Road, Singapore Zoo, Sim Lim Square  (khusus elektronik) dll. Beberapa Nama-nama stasiun kereta bawah tanah, kalau disini commuter line atau MRT yang berhubungan dengan pusat belanja yang masih kuingat adalah : Newton, Summerset, Dhoby Ghaut, City Hall, Raffles Place, Bugis, Redhill, Orchad, Toa Payoh, Ang Mo Kio, Marina Bay. Bahkan di China Town Mall disitu ada sebuah toko survenir yang dimiliki oleh seorang Chinese yaitu Helen, nama tokonya Paradise. Setiap akau berkunjung kesitu sendiri atau membawa tamu yang membeli berbagai survenir, diberi discount yang lumayan. Helen sangat ramah dan familier, barang-barang yang dijulanya-pun mutunya bagus.


Sekarang semua itu sudah berlalu cuma kenangan saja, apalagi dengan masa kerja yang sudah lebih dari 30 tahun ini, tak ada lagi dinas keluar negeri yang bisa diharapkan, sekedar menghayal saja. Paling-paling penghargaan saja yang menjadi imajinasiku. Kalau dulu ada penghargaan buat pegawai yang masa kerjanya mencapai 35 tahun, diberi jalan jalan ke Pulau Bali selama seminggu dengan semua biaya yang timbul ditanggung oleh BI, baik makan, akomodasi maupun transportasi. Insyaallah aku berdoa jika masa kerjaku mencapai 35 tahun, BI nanti akan memberi penghargaan keluar negeri bukan ke Bali. Semoga.


Generik.... Murah Tapi Mujarab

Di masyarakat kita khususnya di Bank Indonesia (BI), obat generik konotasinya  masih sebagai obat yang 2 M, dan TTM, yaitu : obat yang harganya Murah, untuk orang Miskin, dan Tidak Terlalu Manjur. Mengapa ? Karena, obat-obatan di Indonesia sudah menjadi komoditas bisnis yang sangat potensial, sehingga perlu penambahan aksesoris (kemasan yang bagus, yang menarik dll), promosi besar-besaran di media cetak, maupun televisi, dengan artis-artis bekennya dan tidak ketinggalan peran dokter yang me"resep"kannya.

        Anehnya, masyarakat kita justru cenderung menyukai hal-hal atau barang-barang yang harganya mahal. Yang mahal dianggapnya tentu bagus, kalau obat ya yang mahal tentu manjur. Makanya sejak ada pengetatan pemberian obat pada para pensiunan BI atau anggota PPBI, semuanya mengeluh dan merasa nggak dihargai jasa-jasanya selama mengabdi di BI berpuluh-puluh tahun.

        Mereka merasa bahwa BI kurang care dan menganggap pensiunan seperti “habis manis sepah dibuang”. Minta vitamin aja nggak boleh apalagi obat yang mahal dan manjur, demikian pendapat beberapa pensiunan yang sempat kutemui di Poliklinik BI. Menurutku obat generik yang dianggap tidak manjur, karena murah. Padahal obat-obat tersebut, isinya tidak berbeda dengan obat ber-merk lainnya. Sebenarnya, obat bermerk itu, obat generik juga cuma diberi label atau merk dagang dengan nilai jual yang lebih meyakinkan masyarakat, bahwa itu obat mujarab..

        Untuk lebih jelasnya, sebagai contoh begini, pada saat suatu perusahaan Farmasi menemukan sebuah obat untuk mengobati penyakit tertentu, mereka langsung mendaftarkan paten untuk obat tersebut. Paten ini di Indonesia, biasanya berlaku dalam kurun waktu 20 tahun. Selama masa paten itu, perusahaan farmasi tersebut, mendapatkan hak eksklusif untuk memproduksi obat tersebut, memasarkannya, dan memberinya merk dagang. Adapun perusahaan farmasi yang lain, tidak boleh memproduksi dan memasarkan obat dengan kandungan yang sama, kecuali dengan menjalin kerjasama dengan perusahaan pemilik paten tersebut.

        Sesudah masa paten habis, merk dagang obat yang telah dipasarkan selama masa paten  itu, tetap menjadi milik perusahaan tersebut yang mempunyai hak paten dulu. Hanya sekarang, perusahaan farmasi lain boleh memproduksi dan memasarkan produk tersebut, tanpa harus menjalin kerjasama dengan perusahaan pemilik paten dulu. Itulah yang kita kenal dengan obat generik. Perusahaah-perusahaan yang lain tersebut, tidak boleh menggunakan merk dagang yang sama dengan merk dagang yang sudah digunakan oleh perusahaan yang pertama, bekas pemegang paten obat tersebut. Perusahan-perusahaan yang lain bisa menggunakan merk generik, atau membuat merk dagang sendiri.

        Jadi kesimpulannya, obat bermerk itu dengan obat generik, sama ! Tapi mengapa obat generik ini bisa dijual murah sekali ? Obat generik tidak memakai label/merk, kemudian kemasannya dibuat sederhana, tidak menggunakan banyak iklan, bahkan hampir bisa dikatakan tidak ada iklannya sama sekali. Dengan dihilangkannya biaya-biaya operasionalnya ini, maka obat generik ini bisa dijual sangat murah. Cuma persoalannya, banyak masyarakat kita yang tidak mengetahui adanya obat murah berkwalitas.


        Ini adalah efek dari kurangnya informasi, promosi atau iklan. Disamping itu,  di   toko obat dan juga apotik tersedia obat generik karena sudah merupakan keharusan untuk menyediakan obat ini. Tapi berhubung obat ini harganya murah sekali, hingga margin/keuntungannya kecil sekali, dan jelas tanpa ada bonus dan sebagainya, pihak toko ataupun apotik tidak terlalu meng-expose keberadaan obat ini, malah lebih suka menawarkan obat lain yang bermerk sebagai alternatif.

        Oleh karena itu sebagai warga BI, mari kita kampanyekan untuk memakai dan membeli obat murah berkwalitas, dan membantu menyebarluaskan informasi tentang obat generik. Yang terpenting adalah sebenarnya "Peran" dari para Dokter di Poli BI baik yang di Gedung Kebun Sirih maupun yang di Gedung Bidakara, dibutuhkan dokter-dokter yang berhati "Mulia", yang bersedia me "Resep"kan Obat generik berharga murah tapi berkwalitas, selain kepada pensiunan juga kepada Pegawai aktif guna kepentingan si Pasien. Walau mungkin "Pahit" bagi kantong dokternya, sehingga impian untuk "SEHAT ITU MURAH" dan efisiensi biaya kesehatan di BI benar-benar bisa kita wujudkan.(Hj. Ratna Marsoedi).


Selasa, 05 November 2013

Energi Positif Shalat Subuh

      Untuk menaklukan rasa kantuk butuh perjuangan,  kenikmatan alam mimpi kadang membuat kita malas bangun pagi. Ini disebabkan penyempitan pembuluh darah di otak,  yang cenderung bikin ngantuk. Sehingga membuat banyak diantara kita yang sering mengabaikan panggilan untuk beribadah shalat subuh, Muazin telah memanggil-manggil dengan suara yang merdu dan mendayu-dayu, tapi kita makin asyik memeluk guling dan menarik selimut.

        Berbicara tentang waktu dan shalat subuh ada kaitannya dengan kerja kita sehari-hari. Pagi adalah awal kita untuk melangkah bekerja, berusaha dan belajar. Jika kita mengabaikan waktu yang tersedia dipagi hari, maka kita membiarkan waktu berlalu begitu saja, waktu tak pernah berubah sampai kapanpun. Kemarin ada pagi ada shalat subuh, hari ini ada pagi ada shalat subuh, besok ada pagi ada shalat subuh, lusa ada pagi ada shalat subuh, sampai kapanpun ada pagi dan ada shalat subuh.


Bagaimana agar waktu shalat subuh nggak berlalu begitu saja, kita sendiri yang menentukan nilai waktu. Apakah kita akan memanfaatkannya atau membiarkannya begitu saja ? Memulai kegiatan dipagi hari dengan shalat subuh, berarti kita telah meretas jalan dengan niat tulus dan ikhlas, coz siang merupakan ladang untuk berikhtiar dan mencari nafah. Apabila kita tidak mengawali aktivitas dengan bersujud kepada Allah SWT, kecemasan dan keluh kesah akan selalu ada, dan banyak kendala. Bila hubungan kita dengan Tuhan terjalain baik, maka hubungan kita dengan manusia insyaallah juga terjalin baik. Mulailah kegiatan hari ini dengan membuka katup penutup kesadaran Ilahiah dan menjadikan shalat subuh sebagai titik awal perubahan hidup kearah yang lebih baik dan bermanfaat. Sehingga akan lahir karakter diri kita yang selalu berkontribusi, nggak hanya untuk diri sendiri tapi juga buat orang lain (mission statement building).

Melaksanakan shalat subuh membutuhkan kesiapan mental, pikiran, keihlaksan, konsistensi. Kita menempatkan shalat subuh bukan hanya sekedar kewajiban, tapi kebutuhan hidup layaknya seperti makan dalam kehidupan sehari-hari. Supaya tak susah bangun pagi saat fajar untuk shalat subuh, kurangi makan dan ngopi dimalam hari, agar tak susah bergerak dan malas. Jaman sekarang tak ada salahnya memfaatkan teknologi untuk membangunkan kita pada waktu subuh. Kita bisa pakai alarm handphone atau jam beker dengan men-setting suaranya yang besar dan lantang, letakan ditempat strategis dan mudah dijangkau.


Perlu diingat bahwa aktivitas bangun diwaktu fajar dan menunaikan shalat subuh tepat waktu, dapat meningkatkan kadar oksigenase ke-otak dan melebarkan aliran pembuluh darah otak, juga mencegah trombosit saling menempel sehingga pembuluh darah tak menyempit. Selain itu shalat subuh juga dapat meredam keliaran diri, menghilangkan pikiran negatif, mengembalikan hidup pada jalur kebenaran. Dan yang pasti kalau kita berangkat kerja kekantor sehabis subuh mengendarai kendaraan tenang karena jalanan belum macet, masih sepi. Datang dikantor tepat waktu nggak terlambat, karena bekerja adalah ibadah dan merupakan amanah yang harus ditunaikan dengan baik, sebagai aktualisasi rasa keindahan. (Resensi buku : Sabil El-Ma'rufie)