Minggu, 28 Februari 2016

Hidup Baru Bersama Hemodialisa

Alhamdulilah…. Setelah dirawat selama 10 hari di Rumah Sakit PGI Cikini berkat dikabulkankannya do’a dari teman-teman dan melakukan beberapa kali proses hemodialisa-HD (cuci darah), kini aku segar bugar dan bisa lagi aktif menjalankan tugas rutin dikantor.


Subhanalloh…  Aku senang sekali makanya kutulis postingan ini, untuk menyampaikan berita baik pada rekan-rekan semua, bahwa jika Allah SWT sudah berkehendak walaupun ada gangguan penyakit yang dianggap berat, insyaallah bisa menjadi lebih baik jika kita berusaha dan bedoa.

Awalnya pada tahun 2011 ketika dokter mengatakan bahwa saat itu creatinineku yang ada dalam darah sudah mencapai 2.7. Yang berarti bahwa sudah ada sedikit gangguan pada fungsi ginjalku. Jadi aku disarankan untuk berhati-hati dan menjaga agar hanya memakan makanan yang sehat, dan menghindari komsumsi suplemen makanan atau vitamin. Karena makan tersebut hanya membebani kerja ginjal.

Lima tahun berlalu, apa yang disampaikan dokter kurang kuperhatikan sehingga pada bulan Februari 2016, aku merasakan tubuh lemas tak bertenaga, nggak nafsu makan, mual, sering batuk,  pusing, cegukan, jalan kaki hanya 100 meter saja nafasku tersengal-sengal, dada terasa sesak, badan dingin sekali padahal diruangan yang tidak ber- AC.

Sehingga akhirnya pada hari Rabu tanggal 10 Feberuari 2016 pagi, aku merasa capek dan letih sehabis memarkirkan motorku di halaman kantor. Badan lemas sekali kemudian aku berjalan ke poliklinik BI Kebun Sirih dan minta tolong ketenaga medis yang ada saat itu. Setelah ditangani dokter dan memeriksa kondisi serta darahku, dokter berkesimpulan bahwa aku harus dirujuk ke rumah sakit untuk dirawat, karena creatinine pada darahku mencapai angka 14, yang berarti sudah dalam kondidi berbahaya.

Aku pasrah pada keputusan dokter, kalau itu memang jalan terbaik untuk kesehatanku aku menurut saja, lalu aku diusung ambulan YKKBI ke RS PGI Cikini-Jakarta. Setiba dirumah sakit, setelah dicek kembali kondisiku kemudian aku dioperasi untuk memasang doble lumen, alat bantu yang terhubung dengan aliran darah dibahu sebelah kanan. Alat ini dipasang untuk sementara saja kurang lebih dipakai hanya tiga bulan, setelah tiga bulan tugasnya akan diganti dengan Cimino. Yaitu alat penyatuan pembuluh darah arteri dengan pembuluh darah vena, dipergelangan tangan kiriku. Alat ini merupakan akses permanen untuk HD, tanga kiriku pun nggak boleh banyak dipergunaan untuk membawa beban, jadi aku harus menjaganya dengan hati-hati, baik dirumah maupun dimana saja berada. Oh my God…  Penyakit ini sebelumnya tak pernah terlintas dibenakku.

Malam harinya aku menjalankan hemodialisa-HD yang pertama kali, yaitu darah dalam tubuhku ditransfer ke mesin dialysis. Mesin ini yang akan meyaring limbah ataupun racun yang selama ini telah membuatku mengalami hal yang menggangu kesehatan. Darah disaring oleh mesin tersebut dan dikembalikan lagi kedalam tubuh, waktu pelaksanaannya kira-kira empat jam.  Prinsipnya darah yang kotor dikeluarkan dan dimasukan lagi ketubuh jika sudah bersih, yang dikerjakan secara bertahap, tetes demi tetes hingga tidak bersisa kotorannya.

Jika dalam keadaan normal sebetulnya prsoses ini dilakukan oleh ginjal, namun karena fungsi ginjalku menurun tak sesuai lagi dengan rancangan yang Tuhan ciptakan, maka mesin HD yang menggantikan pekerjaan ini. Selain itu aku harus menjalani diet ketat, minum secukupnya nggak boleh berlebihan maksimal hanya 600 ml sehari atau sebotol air mineral yang kecil. Makanan yang harus dihindari adalah  kacang-kacangan termasuk tahu tempe, susu, keju, sayur-sayuran, pete, jengkol, ketan, buah-buahan.

Seminggu dua kali setiap hari Selasa dan Jum’at dalam beberapa jam aku harus terkurung dalam ruangan yang serba putih, diiringi irama detak-detak jarum jam dinding yang terpasang di dinding. Didampingi istriku serta ditemani oleh perawat yang selalu siap membantu setiap waktu, kehidupanku tergantung pada mensin HD. Hemapo (erythropoetin) adalah obat injeksi agar hemoglobin darahku normal menjadi sahabat karibku sekarang.

Jadwal HD harus kupatuhi benar-benar, sebab mesin itulah yang dapat menjaga kondisi tubuhku tetap fit dan stabil. Makanan pun harus kuperhatikan kualitasnya, sebab dari asupan makan dengan protein tinggi kadar albumin didalam darah terkendali. Kalau minum sudah pasti dibatasi sesuai anjuran dokter guna mencegah overload atau penumpukan cairan di tubuh, terutama di paru-paru yang bisa menimbulkan sesak nafas.

Yang sangat membahagiakan bahwa selama HD ini berlangsung, biaya yang dikeluaran sangat tinggi namun BI telah memberi jaminan akan menanggung seluruh biaya yang timbul.  Aku hanya akan melalui hari-hari baru dengan derita sakit yang orang lain tak perlu mengetahuinya, walau kadang tulang-tulangku tersa ngilu mengganggu terutama saat menjelang tidur. Jika sudah menjelang subuh aku harus memaksakan diri untuk segera bangun bersyukur pada Allah SWT, serta harus mempersiapkan diri untuk berangkat kerja. Rasa tidak nyaman dalam tubuhku dapat kuatasi dengan selalu berusaha untuk tidak mengeluh, aku belajar memahami kondisi tubuhku dan perubahan-perubahan yang terjadi sehingga tidak selalu memerlukan pengobatan dari dokter kecuali terpaksa.

Satu atau dua minggu pertama merupakan tahap proses penyesuaian dalam diriku, begitu juga terhadap interaksi dengan lingkungan dikantor. Kadang aku merasa rendah diri karena menderita sakit ini, walaupun hal tersebut dapat kututupi seakan-akan selalu terlihat tegar dihadapan orang lain. Sebab orang lain melihat dari luar secara fisik kelihatannya aku baik-baik saja, mungkin teman-teman yang belum tahu penyakitku, mereka tidak percaya kalau aku adalah seorang pasien yang hidup dengan menjalani cuci darah. Aju tidak ingin ada orang yang merasa iba, aku ingin mereka memandangku biasa saja, sehingga memberikan keleluasan bagiku untuk  berinteraksi.

Dalam kondisi seperti ini aku nggak akan menyerah, harus harus tetap masuk untuk bekerja, aku harus tetap berkarya. Aku sadar bahwa gagal ginjal bukan akhir dari segalanya, proses HD ini bukan untuk menyembuhkan dan mengobati ginjalku yang berkurang fungsinya, tapi hanya untuk memperpanjang hidup, cuci darah ini dilakukan untuk memberi harapan padaku agar mempunyai semangat dan melakukan aktifitas. Saat ini proses HD kujalani dua kali dalam seminggu, walau dalam kondisi yang seperti ini aku tetap optimis dapat melaksanakan tugas rutin dikantor dengan baik, aku harus terus semangat, tegar dan tawakal agar semua yang menjadi beban dan tanggungjawabku dalam hidup ini tercapai.



Selasa, 09 Februari 2016

Aku Yang Tersisih

Jika ada rapat di divisi ku, aku merasa tersisih dan sedih, apalagi jika yang menjadi substansi rapat adalah perjalanan dinas kantor ke daerah. Rasanya aku asing banget, sebab sudah lama sekali aku nggak ditugaskan oleh pimpinan ikut dalam dinas tersebut.


Aku nggak tahu pasti mengapa sampai hal itu terjadi…?, tapi dari isu-isu yang disampaikan seorang teman padaku penyebabnya adalah aku nggak kompak, aku nggak pernah mau di ajak makan malam bersama saat tugas. Ada juga yang bilang bahwa aku egois karena suka pergi sendirian saat tugas, katanya lagi aku sering curi waktu untuk mencari ide nulis, jadi ini menggambarkan bahwa aku nggak serius dalam melaksanakan tugas. I am useless, so nyanda guna…

Resikonya ya sekarang ini aku nggak pernah diajak lagi dalam dinastim kantorku  melakukan tugas rutin ke daerah, aku jadi merasa asing ditengah-tengah kawan kerja seruangan dikantor. Karena mereka nggak pernah lagi mau bicara sola pekerjaan denganku, walau masa kerjaku relatif paling senior diantara mereka.

Paling tidak enak rasanya kalau dispelekan orang lain, apalagi orang itu adalah teman dan atasan  kita sendiri. Atasan yang semestinya memberi semangat dalam bekerja, kini membuat kita serasa tak berguna, atasan yang harusnya memberi kepercayaan kini menjauhi, boro-boro ngajak ngobrol, negur pun nggak pernah. Tetapi the show must go on, aku harus tetap bekerja, nggak boleh putus asa sebab masa kerjaku tinggal empat tahun lagi. Aku harus menunjukan bahwa orangtuaku membinaku bukan untuk menjadi pemalas, bukan untuk menjadi orang yang gampang patah arang, aku harus tegar sampai menjelang masa pensiunku nanti.

Kini yang kulakukan adalah merubah sikapku yang mungkin nggak disukai pimpinan atau kawan-kawan, tapi bagaimana aku tahu bahwa aku punya salah, wong teman-teman dikantor nggak ada yang terus terang untuk menunjukan kekurangan dan salahku. Aku hanya bisa menduga saja bahwa aku harus merubah sikap memperbaiki diri.

Dilingkungan tempatku kerja, aku termasuk orang baru jadi aku harus menunjukan sesuatu agar kepercayaan beliau tumbuh dan melambung tinggi. Aku nggak perlu tersinggung karena semua pekerjaan yang kulakukan adalah untuk mendapatkan kepercayaan pimpinan, aku harus membuktikan kemampuanku yang sesungguhnya, masa aku bisa mencetak anak-anakku menjadi sarjana dan menjadikan mereka orang yang bermoral tapi nggak bisa mengambil hati seorang pimpinan.

Walau sebenarnya aku tahu bahwa tujuan orang bekerja bukan hanya ingin meyenangkan pimpinan tapi untuk memberikan kontribusi pada perusahaan seoptimal mungkin. Jadi tidak ada gunanya membiarkan dada sesak dan perasaan tidak enak, hanya gara-gara menghadapi atasan yang nggak menghargai niat baik dan hasil kerja kita. Yang penting aku sekarang mau mengoreksi segala kesalahan, mengevaluasi segala kekurangan, tidak mengulangi hal-hal yang buruk yang pernah terjadi. Sebab tujuan bekerja bukan karena semata-mata demi atasan tetapi bagaimana kita bisa berkontribusi bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kita.

So aku nggak boleh kecil hati karena nggak diajak tugas ke daerah, tetapi sebaliknya sikap atasan itu menjadi pelecut untuk mengeluarkan seluruh kapasitas diriku. Sekarang aku harus mengerahkan semua kemampuan untuk melakukan pekerjaan sebaik-baiknya dan menghasilkan pencapaian konduite tertinggi, serta disukai rekan kerja dikantor.


Rabu, 03 Februari 2016

Surat Buat Deni

Kutulis surat ini ketika matahari Fajar di Indonesia sudah tinggi, aku yakin di tempatmu sekarang berada suasana masih gelap karena baru saja azan subuh berkumandang. Sebab di Qatar dan Indonesia selisih waktunya sangat banyak sekitar 4 jam, namun aku merasa senang sekali karena rasa kangen ini dapat kutumpahkan melalui do’a yang kupanjatkan saat melakukan shalat dhuha pagi ini.


Seperti saat kepergianmu di Bandara Soekarna Hatta beberapa waktu yang lalu, pesanku jadilah seorang ksatria selama diperantauan, janganlah kejahatan dibalas kejahatan itu berarti dendam. Jika kebaikan kamu balas dengan kebaikan itu adalah perkara biasa, jika kebaikan dibalas kejahatan itu adalah zalim, tapi jika kejahatan dibalas kebaikan itu adalah mulia dan terpuji.

Anakku… sejak kecil hingga dalam pengembaraan dan perjalanan karirmu sudah kutanamkan bahwa setia kawan sangatlah penting, sebab setia kawan adalah bentuk perbuatan positif dalam kehidupan bermasyarakat sehinga terbentuk gotong royong dan rasa toleransi. Akan tetapi berhati-hatilah karena setia kawan yang salah akan merusak tatatanan budaya, ekonomi, keamanan, hukum, dan politik. Apalagi keadaan di negara yang engkau diami saat ini sangat berbeda sekali dengan daerah asalmu, sehingga kamu harus waspada dengan trick dan intrik yang mengarah pada pergaulan negatif.

Mungkin dalam perpolitikan dapat kita jumpai setia kawan karena kepentingan, tak peduli kepentingan tersebut benar atau salah, bagi mereka adalah keuntungan. Pemandangan seperti ini dapat kita lihat secara kasat mata ketika perjuangan rakyat Syuriah dan Irak didukung oleh orang-orang yang tak faham agama, sehingga mereka membabi buta memerangi orang baik-baik dan membunuh masyarakat tak berdosa, dengan alibi abal-abal tak sesuai dengan ajaran kebaikan.

Seperti apa setia kawan yang benar…? Yaitu setia kepada teman, kelompok, saudara, organisasi, institusi, negara bangsa  dan mahluk tuhan. Beritahu kalau temanmu itu salah itu namanya setia…! Carut marut negeri ini karena perilaku setia kawan yang salah, entah sampai kapan ini akan berakhir….

Anakku…. Pergi merantau bukanlah pilihan yang luar biasa, sebab disana banyak orang Indonesia melakukan hal yang sama denganmu, lantaran berharap gaji yang tinggi dan kehidupan lebih baik. Padahal tanah perantauan belum tentu memberikan rasa nyaman, namun  bukankah kesuksesan selalu bermula dari keraguan dan ketidaknyamanan. Selama ini keluarga dirumah dan orangtua selalu membuatmu merasa cukup, tapi hidup adalah perjalanan untuk menjadi lebih dari cukup, apalagi kamu terlahir sebagai seorang anak lelaki yang kelak menjadi kepala rumah tangga seperti aku.

Arungilah dunia ini anakku, jejakanlah telapak kakimu dengan kuat, tancaplahkanlah kukumu dalam-dalam, dunia ini bagai sebuah buku. Jika seseorang yang hanya diam dan berada di zona nyaman rumahnya, berarti dia hanya khatam satu halaman saja. Momen perjalanan atau kesempatan menjelajah tempat-tempat baru akan menempa pribadimu menjadi tegar, berbagai pengalaman akan membuatmu menjadi kuat, sebab saat kamu berani meninggalkan kampung halaman saja itu pertanda engkau sedang merintis menjadi laki- laki yang tangguh. Banyak hal yang harus dipikirkan, berbagai tantangan pun sudah menanti untuk dihadapi, dan keputusan inilah yang bisa mengubah hidupmu, membuat berbagai perubahan disetiap sisi kehidupan. 

Kamu meninggalkan zona nyaman demi menggapai kesuksesan, meski tak ada lagi orangtua yang selalu mengawasi kegiatanmu sehari-hari, aku yakin kamu justru tak mau bertindak seenaknya.  Diusiamu yang telah aku anggap dewasa, kamu mengerti bahwa yang kamu lakukan harus bisa dipertanggungjawabkan, walau tinggal sendiri dan bebas melakukan apa saja, kamu akan memilih mana yang pantas dan baik untuk dilakukan serta menemukan apa yang sebenarnya jadi panggilan hidupmu. Pertanyaan-pertanyaan ini akan terbayar lunas, terjawab tuntas ketika kamu berani melangkahkan kaki jauh dari rumahmu, selamat berjuang anakku, hiduplah dengan mandiri….. Semoga Allah SWT selalu meridhoi segala kebaikanmu, amiiiiin.