Senin, 25 Januari 2016

Selalu Ada Hikmah Dibalik Masalah

Kita meyakini satu kebenaran bahwa selalu ada hikmah dalam setiap masalah yang kita hadapi dalam hidup ini. Dengan demikian ketika ada masalah atau hal yang menyusahkan datang dalam hidup, sejatinya kita menyiapkan diri untuk bersuka-cita memetik bunga-bunga hikmah yang ada. Sepanjang hidup dan tak mengenal musim pasti ada buah hikmah yang dapat kita petik.



Tetapi kita lebih memilih untuk terjebak dalam keluh-kesah dan sibuk menyalahkan situasi atau orang lain. Begitu banyak energi yang terbuang untuk hal ini. Sejatinya kita tahu bahwa dengan mengeluh pun tak akan menyelesaikan masalah.

Padahal sudah banyak pengalaman hidup telah mengajarkan tentang kebenaran ini. Mengapa kita tidak belajar, sehingga menjadi kepenuhan hidup dan terus bertumbuh?

Ketika kita sakit, tentu hal ini mengajarkan kepada kita untuk hidup sehat dengan pola hidup dan asupan makanan yang bergizi. Sederhana bukan? Tetapi ketika sudah sehat kita lalai dan tetap merusak tubuh dengan meracuninya dengan makanan-makanan. Hikmah yang ada jadi sia-sia.

Ketika kita sering berinteraksi dengan orang yang cerewet dan menyebalkan, alih-alih kita ikut cerewet dan sebal, mestinya kondisi ini dapat membuat kita belajar lebih sabar.

Begitulah pula ketika kita berada di jalan raya yang semberawut, keadaan ini sejatinya tidak membuat kita terjebak dalam kesemberawutan dan mudah emosi, tetapi menjadi lebih toleran dan sabar terhadap pengguna jalan yang lain.

Saya menuliskan hal ini karena baru saja mengalami pengalaman yang memberikan pengajaran akan hikmat ini. Dimana keadaan yang awalnya membuat saya susah hati dan harus berkeluh, pada akhirnya mendapat hikmah dan manfaatnya.

Karena ada renovasi kantor di tempat kerja, sehingga jalan yang biasa dilalui harus dibongkar. Tentu keadaan ini membuat tidak nyaman. Terutama bagi saya yang harus naik tangga karena ruang kerja berada di lantai 3.

Kondisi ini membuat jadi malas kemana-mana untuk makan siang dan terpaksa makan seadanya. Lalu saya hanya memilih merebus sayuran yang gampang mateng seperti sawi ijo dan kangkung. Yang tanpa saya sadari sebelumnya keadaan ini justru membuat tubuh lebih nyaman. Berat badan turun dengan signifikan. Terbukti dari celana-celana jadi kedodoran.

Wow luar biasa. Padahal selama ini mau menurunkan berat badan itu susahnya minta ampun. Nafsu makan sulit dikendalikan. Namun dalam keadaan sekarang selain makan menu yang sehat dengan makanan yang serba rebus jatah makan pun cuma dua kali sehari.

Begitulah keadaan yang awalnya bikin sebal dan tidak nyaman justru menciptakan rasa nyaman pada kesehatan tubuh. Awalnya bikin cemberut sekarang jadi tersenyum karena berat badan mulai berkurang.

Ngomong-ngomong berat badan memang berkurang, tapi bagaimana dengan celana-celana yang tak bisa dipakai lagi? Wah, mesti beli celana baru lagi dong? Lah, ujung-ujungnya kok mengeluh? Dasar!(Katedra rajawen)


Hidup Penuh Warna

Sahabat...
Tak terasa hari berganti hari, bulan berganti bulan, bahkan tahun berganti tahun terus melaju tak kenal henti dan memang tak ada yang bisa menghentikannya, menggerus siapapun yang tak bisa memanfaatkan waktu



Terkadang kita bingung dengan banyak hal banyak fenomena dan kejadian yang tak masuk akal kenapa yang seperti itu bisa terjadi ?

Sebagian orang bisa terus memanfaatkan waktu sebaik mungkin, sebagian lagi merasakan bagai hidup dalam kehampaan, kesedihan selalu hadir tak berujung, tertatih-tatih menapaki waktu tak berbatas berupaya tuk menggapai hidup yang sehat dan bahagia..

Tapi apa mau di kata...
harapan dan kenyataan jauh panggang dari api, apapun yang terjadi kita tak boleh berputus asa terus lakukan ikhtiar terbaik terus lakukan harapan dan do'a tanpa batas... Selanjutnya ikhlas dalam menerima apapun kenyataan, maka hidup kita akan tersa semakin indah dan penuh warna.

Banyak sekali yang sudah, sedang dan akan kita lakukan, sedikit banyak lumayan membebani lelah dalam fikiran dan raga kita bahkan terkadang memuat sampai pada kelelalahan jiwa

Itulah kehidupan yang memang harus kita lalui, meski kita tidak mau tetap saja hal itu akan terjadi,
sehingga sebenarnya kita tidak memiliki pilihan selain harus menyelesaikan semua itu dengan baik dan ikhlas..

Lakukanlah hal terbaik yang bisa kita lakukan saat ini juga, insya Alloh hasilnya pun akan baik, inilah dorongan yang bisa kuberikan, juga do'a yang senantiasa terpanjat agar kita bisa menyelesaikan setiap kewajiban kita dengan baik di beri kekuatan, di beri kesabaran, diberi kemampuan... Amiiin.(Kang Dede )


Satpam Pemberani

Kejadian sebagaimana diceritakan oleh narasumber terjadi beberapa waktu lalu di depan Mall Senayan City, Danki Brimob berpangkat AKP berkelahi dengan Mayor CPM. Keduanya berpakaian dinas lengkap terlibat adu mulut kemudian memanas sehingga masing-masing siap mencabut senjata.



Tetapi sebelum terjadi tembak menembak, seorang Satpam Mall keluar dan dengan berani mengambil tindakan, demi menyelamatkan pengunjung Mall dari peluru nyasar.

Satpam senior ini sudah berumur namun masih terlihat sigap dan cekatan berusaha untuk melerai perkelahian oknum TNI Polri tersebut, tetapi mereka terus bersitegang dan suasana tetap memanas. Akhirnya Satpam tersebut tidak bisa menahan emosi dan menampar kedua oknum TNI dan Polri tersebut.

Setelah tindakan Satpam tersebut, akhirnya kedua oknum TNI dan Polri tersebut menyimpan senjatanya. Wartawan yang melihat dan berada di tempat kejadian langsung mewawancarai Satpam dan menanyakan keberaniannya menampar anggota Polri dan TNI yang berpangkat perwira.

Dengan datar satpam yang pemberani tersebut menjawab : Ooh..“Mereka berdua itu ANAK SAYA !!, Dari kecil… kalo nggak ditampar nggak berhenti berantem mulu.....”
Hahaha.... wartawan dan pengunjungpun tertawa semua, terang aja bapaknya pantesan berani ngegampar oknum TNI dan Polri..... (Iwan Prasetyo)


Selasa, 19 Januari 2016

Ibu.... Ibu.... Ibu...

Seorang ibu akan selalu ada ketika orang lain meninggalkan kita, memiliki seorang ibu adalah anugrah bagi kita semua. Ibu rumah tangga adalah pekerjaan dengan gaji tertinggi, karena bayarannya adalah cinta yang tulus. Seorang ibu tak pernah  sendirian dalam pikiran karena ia harus berpikir dua kali untuk dirinya dan untuk anaknya.



Seorang ibu adalah mahluk yang sabar dan pemaaf, cintanya tak pernah berhenti atau putus meskipun hatinya tersakiti. Oleh karena itu tak ada cara untuk menjadi ibu yang sempurna namun banyak cara untuk menjadi ibu yang terbaik bagi anak-anaknya. Ibu yang ideal adalah ibu yang selalu membawa keceriaan bagi anak-anaknya.

Kesabaran menjadi seorang ibu rumah tangga  adalah suatu pengorbanan yang sangat luar biasa dan mulia, kesabaran yang tidak dimiliki oleh setiap orang. Dia rela sakit karena kelakuan jelek anaknya, rela pedih karena harus membuat anak menjadi selalu happy, dan rela capek karena melayani setiap keinginan anaknya.

Karakter yang sangat kuat ada pada ibu adalah sabar, ikhlas dan syukur. Ibu memiliki sabar yang optimis, sabar pantang menyerah, sabar yang terus berusaha, sabar yang bersemangat dan sabar yang konsisten melaksanakan renca dengan kepercayaan tinggi. Hingga menjadikan anak-anaknya agamis dan berbudi pekerti yang baik.

Tak jarang sang anak sering marah dan bersikap makin mengesalkan, saat ibu berusaha mendisiplinkannya. Ibu yang baik tak pernah berpikir atau bersikap galak, sebab jika bersikap demikian maka makin membuatnya tidak takut, melawan, melempar barang, berteriak hingga memukul lalu menjadi ekstrim.

Ibu kadang sulit untuk mengarahkan anak,  bahkan sering kali terpancing mengeluarkan kata-kata kasar dan nada tinggi. Hal itu hanya akan membuat anak semakin membangkang apalagi anak dalam keadaan yang sedang galau hingga menjadi emosi. Oleh karena itu dibutuhkan komunikasi dengan rasa yang baik dan perasaan yang lembut.

Ibu tak pernah berputus asa menghadapi kesulitan karena dia tahu bahwa setiap tetes air hujan yang turun itu berasal dari awal yang hitam. Dalam kerendahan hati ibu ada ketinggi budi, dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwanya, dalam kesempitan ada kekuasan ilmu. Seorang ibu tak penah memintamu untuk meletakan dunia ditangannya, namun dia membekali kita dengan tutur kata yang halus, perangai yang santun dan perilaku yang bertanggung jawab.


Maka bersyukurlah bila kita karena memiliki ibu yang telah membesarkan kita, membiayai kita sekolah, mendidik kita menjadi mahluk yang bermoral. Ini semua penyebabnya adalah karena ibu kita sabar, penuh kasih sayang, selalu bersyukur. Ibu telah sukses mengerjakan pekerjaan besar menjaga anak yang dititipkan Tuhan. Ibu telah menjadikan kita manusia karena memperlakukan kita dengan ikhlas.

Jangan Jadi Layang-layang

Seorang anak sembilan tahun menatapi keelokan layang-layang yang baru saja dibawa sang ayah dari kota. Ukurannya begitu besar, tidak seperti layang-layang temannya. Ada kunciran di sisi kanan dan kiri, dan terdapat ekor yang begitu panjang. Warna-warni kunciran dan ekor layang-layang mengundang keceriaan sang anak.



Setibanya di tanah lapang, sang anak mendampingi ayahnya memainkan layang-layang yang ukurannya lebih besar dari tubuh sang anak. Tiupan angin kencang menerbangkan layang-layang elok ke angkasa. Kunciran dan ekor terus berurai-urai membentuk irama gerak yang begitu indah.

Sesekali, sang anak mencoba berganti posisi dengan sang ayah untuk belajar mengendalikan terbangnya layang-layang. Ia pun berdecak kagum. Matanya berbinar menatapi keelokan layang-layang yang sedang terbang tinggi di angkasa.

“Ayah,” ucap sang anak tiba-tiba. Sang ayah pun menoleh ke arah buah hatinya. “Ayah, andai aku bisa seperti layang-layang. Bisa terbang dengan begitu elok di angkasa sana, sambil memperlihatkan keindahan kepada orang-orang di bawahnya,” tambah sang anak sambil terus menatapi gerak-gerik layang-layang.

Mendengar ucapan itu, sang ayah pun membelai rambut pendek anaknya. “Sebaiknya kamu tidak berandai untuk menjadi layang-layang, anakku!” ucap sang ayah.

“Kenapa, ayah? Kalau saja aku bisa seperti layang-layang, bukankah aku bisa menatap seluruh keadaan di bawah sini,” sergah sang anak penuh tanda tanya.

“Anakku, jangan pernah berandai menjadi layang-layang. Perhatikanlah, walaupun layang-layang berada di tempat yang begitu tinggi, tapi ia tetap di bawah kendali oleh mereka yang di bawah,” jelas sang ayah begitu bijak.


Siapa pun kita, dalam optimisme meraih posisi hidup yang lebih baik, tentu ingin selalu berada di tempat yang tinggi. Ingin menjadi leader, sang pemimpin yang disegani, menjadi orang teratas di organisasi,
Namun, berhati-hatilah ketika optimisme meraih posisi tinggi itu tidak sejalan dengan idealisme dan kemampuan diri yang memadai. Karena kita bisa seperti layang-layang. Berada di posisi yang paling tinggi, sementara sang pengendali ada di bawah.

Ia berada di posisi tinggi karena ada ‘tangan-tangan’ di bawah yang membuatnya tinggi. Keelokannya di ketinggian itu hanya permainan sang ’tangan’ dan tiupan angin.(Prasetya)

Sukses Itu Butuh Sabar

Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran… “Ayah, ayah” kata sang anak…
“Ada apa?” tanya sang ayah…..



“aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek…

aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … aku capel, sangat capek …

aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus! …

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…

aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis…

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” … sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…

“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”
” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”
” Nah, akhirnya kau mengerti”
” Mengerti apa? aku tidak mengerti”
” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”

” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”
” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri… seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau akhirnya kan?”

” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.(Prasetya)



Menciptakan Rasa Tanggung Jawab

Rasa tanggung jawab adalah karakter yang harus kita didik ke anak-anak kita. Kalau tidak diajarkan rasa tanggung jawab, saat ia dewasa nanti, ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak mandiri dan bertindak seenaknya.



Salah satu cara termudah mengajarkan rasa tanggung jawab ke anak adalah mengajarkan bahwa segala sesuatu yang dilakukannya punya konsekuensi yang harus ia rasakan atau lakukan. Atau mengajarkan bahwa untuk mendapatkan sesuatu, ia harus berusaha terlebih dahulu.

Saat ini Zilan, gadis kecil 2 tahunku, sudah mulai mengerti apa yang kita katakan dan kita sudah mengerti apa yang ia maksudkan. Jadi, kita mulai ajarkan ia untuk menjadi anak yang bertanggungjawab.

Pas dia lagi mainan masuk-masukin benda ke lubang dengan bentuk yang sesuai (lingkaran, kotak, bintang, dsb), terus mainannya mental jauh karena tidak sengaja terlempar, kita bilang ke Zilan, “de, diambil ya mainannya”, ia akan dengan senang hati ngambil mainannya itu.

Terus, kalau ia sudah capek mainan malam-malam dan udah mengeluarkan tanda-tanda ngantuk, kita bilang ke dia, “de, beresin yuk mainannya sebelum tidur”. Sambil kita contohin masukin satu-dua mainannya dia ke kotak mainannya, ia pun ikut-ikutan masukin mainannya satu per satu. Sebenarnya abis dia masuk-masukin semua mainannya ke kotak, dia masih ngeberantakin mainannya lagi dan akhirnya tidur tanpa beresin mainannya lagi hahaha.. Tapi di awal-awal ini setidaknya kita udah minta dia bertanggung jawab beresin mainannya.

Satu cerita lagi, si Zilan sudah bisa pakai sepatu sendiri.. dia demeeeen banget pake sepatu. Ia dengan lucunya mengangkat-ngangkat kaki kanannya. Kalau udah begitu, kita bakal minta dia, “de, ambil sini sepatunya ya” (sambil nunjuk sepatunya yang ditaro di lantai di pojok ruangan). Ia bakal dengan senang hati bergerak ke sana buat ngambil sepatu mungilnya.

Kalau anak kita dibesarkan dengan karakter tanggung jawab atas dirinya sendiri, suatu saat nanti ia akan tahu bahwa ia pun bertanggung jawab atas keberadaan dirinya di dunia ini. Ia tidak kebetulan saja dilahirkan dari mama-papanya tanpa tujuan apapun, tapi ia punya tanggung jawab yang lebih besar, yaitu menjadi orang yang bermanfaat kepada orang lain.(Ilman Akbar)


Surat Rindu Buat Anak-anakku

Aku tuliskan surat ini atas nama rindu kepadamu anak-anakku, yang sesungguhnya bukanlah milikku, melainkan milik Allah SWTpenguasa dan pemilik alam ini.



Anakku menjadi orangtua, itu sangatlah indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu duhulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun pernah ku-temui.

Anakku, menjadi orangtua sangat terhormat. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul terdahulu, dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya. Meskipun demikian, ketahuilah Anakku, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi ku akui, betapa sepanjang masa kehadiranmu disisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas orangtua terhadapmu.

Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun. Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan denganNya saat aku bermunajat padaNya. Anakku  saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua. Tapi seiring waktu, ketika engkau sudah makin beranjak dewasa, timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya.



Engkau bukan milikku, atau milik ibu-mu. Engkau lahir karena cintaku dan cinta ibu-mu. Tapi, Engkau adalah milik Tuhan. Tak ada hak-ku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan, Allah yang telah menciptakanmu. Kebahagiaanku, jika engkau telah mengabdi dengan tulus kepadaNya sebagai bentuk rasa syukurmu kepadaku.

Anakku…  sedih, pedih, dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam yang sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh-penuh air mata menetes dihadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu telah mencerahkanku dan ibumu, untuk menjadikan kami yang terbaik bagimu. Sejak saat itu, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya, yaitu Allah SWT.

Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena-Nya, bukan karena aku dan ibu-mu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai oleh Tuhan. Inilah usaha terberatku Anakku, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan dan perintah Tuhan, agar perjalananmu mendekati-Nya tak lagi terlalu sulit.



Kemudian kita pun memulai perjalanan itu bersama, tak pernah engkau ku-hindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain untuk semakin kuat dan tegar. Saat engkau mengeluh letih berjalan, ku kuatkan engkau, karena kita memang tak boleh berhenti,  maka aku berharap dirimu belajar, dan belajarlah untuk masa depanmu. Masa depanmu ada ditanganmu sendiri. Kesuksesanmu merupakan kebahagiaan orangtuamu.

Jangan pernah berhenti untuk belajar dan berjuang anak-anakku, tak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini jika kita lakukan dengan serius dan kerja keras. Insya Allah, sukses hanya menunggu waktu. Begitulah kata-kata yang sering aku dengarkan dari Pak Uztad saat aku masih kecil kala mengaji, agar aku kuat dan tidak pernah mengeluh dalam berjuang untuk meraih masa depan. Alhamdulillah…. ternyata, ibumu dan aku telah mempu menjalani itu semua. Ingatlah… perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti, anakku. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa dalam menempuh perjalanan hidup ini. Allah SWT telah memberikan kita kekuatan dan ketabahan untuk itu.

Akhirnya kalau nanti ketika semua manusia dikumpulkan dihadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari-Nya, karena aku telah berbuat yang terbaik untukNYA, aku akan terima dengan hati yang ikhlas. Karena mungkin seperti itulah aku di dunia ini dalam pandangan Allah. Aku yakin Allah SWT akan mencintai dan menyayangiku, seperti aku telah berusaha untuk mengikuti segala perintahNya. Anakku kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Allah SWT pemilikMU yang sesungguhnya. Aku akan sangat bangga Anakku, karena itulah bukti bahwa semua titipanNYA bisa aku kembalikan kepada pemiliknya dengan sempurna.

Semoga surat ini menjadi renungan dan tausiyah untukmu dan untuk “anak-anak” lain dalam menjalani hidup ini, yang suatu hari kelak, kita semua akan kembali menghadapNYA.  Amiiin, peluk sayang dan cinta…. dari  papa dan mama.(Variyaka Blog)


Senin, 18 Januari 2016

Anakku Adalah Hidupku

Aku vina 27 th, ibu rumah tangga dan memiliki seorang putri (5 tahun) dan seorang putra (4 bulan). Beberapa hari yang lalu saat aku ke salah satu bank swasta terkenal di indonesia ku ajak putriku.

Saat duduk mengantri mendadak seorang ibu setengah baya disebelahku dengan ramahnya tersenyum dan menanyakan tentang putriku. Beliau menanyakan anak ke berapa,berapa usia putriku, dan blaa..blaa...blaa. Dan beliau tiba-tiba saja bertanya "tidak pakai suster bu...?".dengan tersenyum kujawab "oh..tidak bu..." kemudian beliau bertanya lagi "lho kenapa..? jaman sekarang kan pada pake suster, apalagi ibu masih muda, enggak kerja emangnya...?" . Kemudian kujawab " tidak bu, karena saya pikir.. masa kecil anak kita nggk datang dua kali, mungkin paling lama anak saya mau sama saya cuma sampai 5 th, masa mereka mau saya kasih ke orang... kan sayang..."

Beliau tersenyum dan mengatakan "Baguuuuuus.."... Aku masih sambil asyik menenangkan putriku yang sudah mulai bisa meraih apa saja di hadapannya... semuanya mau diraihnya dan dimasukan ke mulutnya..... Kemudian ibu tersebut bertanya lagi "Nggak pake stroller bu..? biar nggak repot ngegendong begitu "... Aku tersenyum..." tidak bu.....anak mau kita gendong paling lama sampai usia 1 tahun, setelah bisa berjalan jarang mau digendong... jadi mumpung masih mau digendong ya saya gendong.."



Mungkin aku yang kurang modern atau terlalu kuno, dari anakku yang pertama memang aku nggak memakai jasa baby sitter,karena sejak hamil anak pertama oleh suami diharuskan resign sebagai pegawai di salah satu pabrik elektronik ternama.

Jadilah aku seorang ibu rumah tangga yang cuma taunya tukang sayur, dapur sama kasur. Aku juga dari dulu gak menggunakan stroller, mumpung anak masih mau digendong akan ku gendong anakku, karena dari pengalaman, anakku yang pertama di usianya yang 5 taunh, sangat susah sekali untuk mau sekedar di peluk, apalagi dicium. Dia seolah sudah memiliki dunianya sendiri, kebetulan anakku yang besar sudah TK, jadi di rumah lebih sering mewarnai, belajar membaca dan menulis.
Aku hanya ingin merawat dan membesarkan anak-anak dengan "tangan" sendiri, seperti dulu ibuku yang merawatku, Akusudah "kalah" banyak hal dari ibu2 jaman dulu, sekarang menimba air sudah ada pompa air, nggak perlu takut bau ompol karena sudah ada pampers, nggak khawatir cucian menumpuk karena ada mesin cuci. Lalu apakah untuk urusan menggendong anak saja akan aku serahkan ke sebuah "kereta dorong bayi atau stoler...? tidak..... tidak perlu, aku harus banyak menyentuhnya dari bayi agar kami memiliki rasa kasih sayang.

Aku yakin apa yang dilakukan oleh seorang ibu kepada anaknya tidak ada yang sia-sia, Aku ingin ada kasih sayang saya di setiap desahan nafas anakku, ada doa-doaku disetiap denyut nadinya. Aku ingin anakku mengenalku sejak  dari bayi hingga ia dewasa.

Sebagai seorang ibu, anak adalah segalanya, anak adalah kebanggaan, semoga kita yang telah dipercaya oleh Allah SWT untuk merawat anak bisa menjadi orang tua yang patut di contoh oleh anak-anak kita. Semoga kita dikaruniakan anak-anak yang sholeh dan sholehah, yang ahli ilmu kebaikan dan ahli ibadah kepada Allah SWT, yang mempunyai rasa malu sebagai benteng agar tak terjerumus dalam kenistaan, anak yang membanggakan orang tua, yang bisa menjadi pelita di dunia hingga akhirat.

Sahabat semua, ayo bisikkan doa-doa ditelinga anak-anak kita, sambil kita menikmati wajah malaikat kecil kita yang halus, bersih dan tanpa dosa.


Anakku jadilah anak yang sholehah dan sholeh, yang pemalu, yang rajin mengaji, rajin sekolah, mama sayang kamu....mmuah..."(Vina)

Rabu, 13 Januari 2016

Ke-Ikhlas-an Ibu Sumber Kebahagiaan

Kesuksesan keluarga timbul dari ikhlasnya seorang ibu mengasuh dan membina keluarganya, kok bisa….! Lalu apa hubungannya dengan dunia Ibu? tentu saja berhubungan, karena seorang ibu dan istri yang bahagia akan mengantarkan anak-anak dan suaminya menuju kesuksesan. Saat seorang ibu memiliki energi bahagia yang maksimal, maka anak-anak dan suami akan memiliki energi bahagia juga, sehingga dengan rasa bahagia itu mereka mampu fokus pada tugasnya masing-masing. Anak akan maksimal meraih pendidikannya dan suami akan maksimal meraih karirnya di kantor.


Dengan kata lain dapat dikatakan seorang ibu bahagia akan mengantarkan keluarganya menuju gerbang kesuksesan dengan penuh rasa bahagia. Dalam proses pendidikan, anak-anak yang berbahagia akan mampu belajar dengan fokus dan mampu mengasah potensi unik dari dirinya dengan maksimal.
Jadi keikhlasan dan rasa bahagia pada diri kita sebagai ibu dan istri ternyata menjadi penentu rasa bahagia pada keluarga, karena kesuksesan keluarga ada pada rasa ikhlas kita.
Namun ternyata menjadi ibu bahagia tidaklah mudah. Ini terlihat dari banyaknya ibu yang mengalami stress atau depresi saat menjalani perannya dalam keluarga. Apalagi dengan adanya pengkotak-kotakkan kategori ibu, yaitu Full Time Mom, Working Mom, dan Working at Home Mom.
Masing-masing ibu seolah merasa galau dengan kategori yang sudah dipilihnya, misal: seorang Full Time Mom merasa iri melihat seorang working mom yang dia pikir terlihat bahagia dengan karirnya, dan sebaliknya seorang working mom iri melihat seorang Full Time Mom karena dapat terus berdekatan dengan anak.  Kalaupun akhirnya mereka menyatakan rasa bahagia atas pilihannya, jatuhnya seolah hanya sedang “defence” dengan rasa galau yang ada pada dirinya, padahal berpura-pura bahagia itu justru membuat hati makin lelah. 
Bahkan tidak jarang saya temui di media sosial, mom war antar sesama ibu sering terjadi secara terbuka. Masing-masing kubu seolah sibuk membuktikan bahwa pilihannya yang paling membahagiakan. Melihat fenomena itu, seolah makin menyadarkan, ternyata rasa bahagia para ibu itu belum benar-benar permanen, keraguan akan pilihan yang sudah diambilnya masih kerap kali muncul, saat melihat pilihan ibu lain “seolah” terlihat lebih membahagiakan.
So… bagaimana supaya rasa bahagia para ibu lebih permanen ? Sebelumnya pahami terlebih dahulu jalan bahagia kita apa, entah sebagai Full Time Mom, Working Mom atau Working at Home Mom, karena rasanya sudah bukan jamannya lagi membandingkan kategori mana yang lebih baik, semua ibu punya peluang masuk surga yang sama saat pilihan yang diambilnya dijalani dengan penuh rasa tanggung jawab.
Bagaimana cara mewujudkannya? yaitu dengan ikhlas… Yaa lakukanlah pilihan yang sudah kita ambil dengan segala keikhlasan, sehingga nanti bahagia mudah diraih. Bagaimana meraih keikhlasan? Definisi keikhlasan disini tentu saja berpatokan pada surat Al-Ikhlas, yaitu kemampuan kita memfokuskan tujuan hanya kepada Allah. Dan pintu awalan ikhlas dimulai dari penerimaan tulus atas kekurangan diri kita, karena dengan proses itu kita seolah sedang merelakan Allah dengan segala sifat Maha Sempurna-Nya, menyempurnakan segala ikhtiar yang sudah kita lakukan, sehingga kita mendapatkan hasil terbaik namun badan tetap rileks. 
Dengan hati ikhlas, kita tidak harus menjadi seorang supermom yang tanpa cela, cukup menjadi original mom lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya, namun kita yakin dengan segala kesempurnaan Allah lah semua kekurangan kita dalam menjalankan peran sebagai ibu akan terasa sempurna.
So…, jangan ragu memilih jalan bahagiamu, entah itu sebagai Full Time Mom, Working Mom, atau Working at Home Mom, kenali dengan jelas apa kekurangan dan kelebihan kita, sehingga jalan menuju sukses dapat kita raih, saat rasa bahagia sudah kita dapatkan. Yakinkan dalam diri, bahwa jalan bahagia dapat kita wujudkan, karena dengan ikhlas, semua ibu berhak bahagia sehingga anak-anak dan suami pun akan bahagia.(Sumber : Redaksi Ummi)


Senin, 11 Januari 2016

Apakah Anda Punya Visi

Jika visi anda tetap, hidup anda akan berubah. Namun bila visi anda berubah-ubah, hidup anda akan tetap! Dalam mengarungi hidup ini, apakah anda punya visi? Apakah anda menuliskannya? Apakah anda sering melihat (atau membacanya)?

Seberapa kuat visi anda? Apakah anda sering “memberi makan” visi anda? Atau jangan-jangan anda hanya merasa sudah punya visi, padahal samar-samar saja? Sehingga tanpa disadari visi anda sering “berubah-ubah”? Salah satu “faktor pembeda” orang-orang sukses dengan mereka yang tidak sukses adalah visi. Mereka yang sukses biasanya punya visi, artinya ia punya kemampuan melihat jauh ke depan. 


Bukan dalam arti secara gaib ataupun ramalan, namun memang bersifat imaginatif. Seorang penulis George Barna mengatakan,”Visi adalah gambaran didalam mata bathin anda mengenai bagaimana nantinya suatu hal akan atau bakal terjadi.” Mereka yang sudah punya visi merasa dunia ini seakan-akan terbuka lebar di hadapan mata batinnya. Visi itu membuat ia begitu bergairah memperjuangkan apa yang “dilihatnya”.

Ia mampu melihat makna tersirat di balik yang ada, yang boleh jadi tak terlihat oleh orang lain. Inilah yang disebut kemampuan melihat peluang. Contohnya Walt Disney. Ia memiliki visi yang luar biasa. Ia mampu mewujudkan suatu tempat dengan bantuan daya khayalannya. Ia mengkhayalkan adanya suatu tempat dimana anak-anak serta keluarganya bisa bergembira bersama memasuki dunia yang sama sekali baru bagi mereka.

Di dalam dunia baru itu, mereka bisa menyaksikan secara nyata tempat-tempat dan tokoh-tokoh yang sebelumnya hanya mereka kenal melalui dongeng saja. Visi yang luar biasa itu sudah menjadi kenyataan. Diawali dengan Disneyland di California, Amerika Serikat. Lalu disneyland-disneyland baru bermunculan, seperti Disneyland di Orlando, Disneyland di Jepang dan di Perancis.

Hal sebaliknya terjadi pada orang-orang yang tidak punya visi. Ia hanya melihat apa yang ada di depan matanya saja dan apa-apa yang bisa diraih secara mudah saja. Selain itu mereka juga sering membayangkan hal-hal negatif tentang masa depan mereka. Dunia ini terasa begitu ‘sempit’ dan sering mengeluhkan nasib buruknya. Bahkan tak jarang mempertanyakan keadilan Tuhannya.

Lha, ini nggak ada kaitan sama sekali dengan jabatan, gelar, pangkat, atau turunan. Keadaan ini bisa dialami siapa saja, kalangan manapun juga. Mulai dari para supir truk, petani sampai para bankir, bahkan profesor sekalipun. Jadi ... agaknya, orang yang paling pantas dikasihani sebenarnya bukanlah orang yang miskin keuangannya, seperti anggapan kebanyakan orang, melainkan justru orang-orang yang tidak punya visi sama sekali dalam hidup ataupun dalam pekerjaannya.

Punya visi itu penting. Visi akan memberitahu kita apa yang BISA menjadi milik kita, sehingga kita tergerak melakukan sesuatu. Kita akan berusaha keras mewujudkannya. Visi membuat kita tak mudah menyerah. Visi membangunkan kembali semangat kita tatkala kita jatuh. Visi memberi kita keuntungan besar dan membuka lebar pintu peluang. Visi juga akan meningkatkan kemampuan seseorang. Makin luas visinya, makin besar pula potensi yang berkembang di dalam dirinya.

John C. Maxwell mengatakan, visi akan membuat semua pekerjaan kita terasa jadi lebih menyenangkan. Tak ada yang lebih membahagiakan selain perasaan berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan setelah bekerja keras. Puas sekali tentunya! Lebih-lebih lagi bila keberhasilan-keberhasilan kecil itu merupakan jalan untuk meraih tujuan yang lebih besar lagi. Tiap tugas yang kita lakukan akan terlihat seperti tiang-tiang yang akan menyangga "proyek" besar kita.

Bila kita menganggap bahwa hasil pekerjaan itu adalah perolehan yang kita dapatkan melalui visi kita, setiap pekerjaan akan memiliki nilai tinggi bagi kita. Bahkan hasil pekerjaan yang paling sederhana sekalipun akan bisa memberikan kepuasan, sebab dari sana sudah terlihat pekerjaan besar yang akan dicapai selanjutnya.

Ini seperti kisah seseorang yang sedang berbincang-bincang dengan dengan tiga tukang batu tatkala mereka sedang membangun sebuah gedung pencakar langit. Orang ini bertanya pada tukang batu pertama, "Apa yang sedang anda kerjakan?" tukang batu itu menjawab, "Saya sedang mencari nafkah."

Ketika ia menanyakan pertanyaan yang sama pada tukang batu kedua, jawabnya: "Saya sedang menyusun batu bata untuk membuat tembok." Namun saat ia bertanya pada tukang batu ketiga, ia menjawab dengan bersemangat, "Saya sedang membangun sebuah gedung paling hebat yang belum pernah ada sampai saat ini."

Ketiga tukang batu tadi sedang melakukan pekerjaan yang sama. Namun dalam hal ini hanya tukang batu ketiga yang didorong oleh suatu visi. Ia melihat suatu gambaran besar, yang pasti akan menambah nilai pekerjaannya. Pertanyaannya, sekali lagi, apakah anda SUDAH punya visi? Kalau belum, mengapa? Apa yang menghalangi anda untuk segera menyusun visi Anda?

Pengalaman masa lalu, menurut Jim Dornan & John C. Maxwell dalam bukunya “Strategi Menuju Sukses”, memiliki visi tidak dipengaruhi oleh faktor keturunan. Anda tidak mesti terlahir sudah punya kemampuan melihat berbagai peluang dan mampu memvisualisasikan masa depan. Visi adalah suatu hal yang perlu dibentuk dan dipupuk, dan terus dikembangkan.

Namun tanpa sadar kita sering menghalangi, membatasi berkembangnya visi ini. Salah satunya adalah pengalaman masa lalu kita. Tanpa sadar kita sering mengukur masa depan kita didasarkan pada riwayat kesuksesan atau kegagalan kita di masa lalu. Kita jadi “korban” keterbatasan yang kita ciptakan sendiri. Ketika yakin kita tidak akan berhasil, sesungguhnya kita membuat batasan pada visi kita dan memenjarakannya dalam “kotak penjara” ciptaan pikiran kita.

Ya memang mungkin saja ada faktanya di masa lalu kita pernah atau bahkan sering menghadapi berbagai kegagalan, bahkan berkali-kali, berulang-ulang. Tapi itu bukan berarti nasib masa depan kita seperti “sudah ditulis Tuhan” sebagai orang yang gagal. Masa depan tak ada hubungannya dengan masa lalu, ujar motivator ulung Skipp Ross dalam salah satu Dynamic Living Seminar-nya. Kita tak perlu membuat garis proyeksi dari masa lalu ke masa yang akan datang. Masa lalu itu adalah history, sudah jadi bagian sejarah kita.

Seperti apa masa depan kita sungguh hanya bergantung pada apa keputusan kita hari ini. Syaratnya ya kita harus “belok”. Mengapa nasib kita hari ini sama dengan kemaren? Mengapa hasil pekerjaan bulan ini kita nggak jauh beda dengan bulan kemaren? Mengapa keuangan kita masih nggak naik-naik?

Pasti kita belum “belok”! Apakah kebiasaan-kebiasaan kita masih sama dengan bulan kemaren? Apakah cara kerja kita masih sama, nggak berubah-berubah? Apakah item-item yang kita lakukan sama saja setiap hari? Kalau ya, berarti memang kita belum “belok”.

“Bila kita ingin hasil yang berbeda, lakukanlah dengan cara yang berbeda.” Bila kita dari bandung, sudah tahu bahwa jalan yang sedang kita tempuh adalah jalan menuju bogor, padahal kita mau ke purwakarta, ya jangan teruskan berada di jalan itu. Beloklah! Ganti arah. Masukilah jalan ke purwakarta. Kalau nggak belok, ya Anda tahu sendiri jawabannya, kemana kita akan sampai.

Bila kita tahu kebiasaan-kebiasan masa lalu kita membuat “kita hari ini” jadi begini, menjadi orang yang bahkan “kita pun membencinya” …. ya berubahlah! Ubahlah satu atau dua kebiasaan lama kita. Pasti “diri kita di masa nanti” tidak akan sama dengan “diri kita hari ini”.

Selain itu rintangan yang juga pada membatasi visi kita adalah “tekanan-tekanan” orang lain, komentar orang lain, “nasehat” orang lain atau pengalaman orang lain. Ada satu cerita seorang ayah bersama anaknya suatu hari membawa seekor keledai ke pasar membeli makanan. Sang ayah duduk dipanggung keledai dan anaknya berjalan kaki. Dalam perjalanan, orang-orang yang mereka lalui berkata, “Kasihan sekali anak itu. Ia harus berjalan kaki, sementara ayahnya yang bertubuh besar dan kuat enak saja mengendarai keledai.“

Maka sang ayah turun dari punggung keledai dan menyuruh anaknya yang menunggangi. Lalu mereka berjalan beberapa saat. Tiba-tiba ada lagi orang-orang lain komentar, “Benar-benar tidak punya rasa hormat pada orang tua. Ayahnya berjalan kaki sedangkan si anak enak saja mengendarai keledai.“ Mendengar itu, lalu mereka kedua-duanya duduk di punggung keledai tadi. Setelah berjalan beberapa saat ada lagi komentar orang-orang, “ Betapa kejamnya! Dua orang sekaligus mengendarai seekor keledai”.

Maka mereka berdua pun turun dari punggung keledai itu dan berjalan bersama. Lalu diperjalanan berikutnya, orang-orang pun komentar, “Alangkah bodohnya mereka! Mereka berdua berjalan kaki, sedang keledai mereka yang sehat dan tidak membawa barang apapun tidak dipergunakan.”

Akhirnya mereka tiba terlambat di pasar. Ketika sampai disana semua orang heran melihat seorang pria dan anaknya sedang menggotong seekor keledai! Sama halnya seperti kedua orang dan keledainya itu, kita pun bisa menjadi terlalu memperhatikan tekanan dan komentar orang lain sehingga kita lupa arah dan tujuan kita yang sebenarnya. Urusan yang sepele serta olok-olok yang tak berarti dapat memenuhi pikiran kita sehingga tak ada lagi tempat yang tersedia untuk visi dalam benak kita. Jangan biarkan hal ini terjadi pada diri kita .


Hal lain yang juga bisa membuat hidup dan visi kita terasa sempit ialah masalah-masalah yang datang bertubi-tubi pada kita. Entah itu masalah fisik kita yang cacat, keluarga kita yang berantakan, bisnis kita yang tak keruan, atau apapun juga. Berbagai masalah itu memang begitu kuat ‘menarik’cita-cita kita melorot turun ke bawah. Disinilah bedanya orang-orang sukses dengan orang-orang gagal sebenarnya.

“Mereka punya masalah yang sama, kesulitan yang sama, tekanan dan rintangan yang datang pun sama-sama stres menghadapinya. Namun inilah bedanya, mereka yang sukses mampu mengatasi dan mengalahkannya, sedang mereka yang gagal sebaliknya. Memang mereka tak mau dan akhirnya (terbukti dengan otomatis) tak berhasil mengatasinya."

Orang-orang sukses selalu fokus pada solusi. Ia pikirkan apa dan bagaimana jalan keluar dari masalah. Sedangkan orang-orang gagal selalu terfokus pada masalahnya. Ia pasti lebih sering berkeluh kesah pada masalahnya, menggerutu, memaki keadaan, menyalahkan situasi. Seperti pada masa sekarang ini, begitu banyak orang yang berkeluh kesah. Sedikit sekali orang yang lebih fokus pada solusi.

Mereka yang sukses siap menerima situasi yang paling jelek sekalipun, lalu ia berpikir keras dan berjuang bagaimana menemukan solusi. Ia akan terus mencari peluang. Karena itu beranikan diri untuk terus bercita-cita tinggi. Lindungi dan jaga impian jangan sampai terkubur oleh situasi. Tak perlu pedulikan datangnya rintangan berupa masalah, keadaan maupun kondisi yang tak diinginkan.

Sejarah membuktikan banyak orang besar yang bisa meraih sukses meski banyak masalah yang juga mereka hadapi. Contohnya adalah Demosthenes, seorang ahli pidato terbesar pada jamannya, yang ternyata penderita penyakit gagap. Saat pertama kali pidato di depan umum, ia ditertawakan. Namun ia memiliki visi untuk menjadi orator besar. Konon kabarnya ia sampai mau memasukkan beberapa butir kerikil ke dalam mulutnya dan berlatih pidato di tepi pantai sambil melawan kerasnya debur ombak.

Begitulah orang-orang sukses. Keadaan apapun tak mampu menahan visinya. Setiap orang memiliki masalah, beberapa diantaranya merupakan kekurangan yang terbawa sejak lahir, sedangkan yang lainnya adalah masalah-masalah yang kita ciptakan sendiri. Apapun masalah yang dihadapi, jangan biarkan visi anda ke masa depan jadi terhalangi. Miliki visi, dan jangan lupa menuliskannya. Gantungkan tulisan tentang visi anda itu di tempat-tempat yang sering terlihat mata anda. Ingatkan terus “otak” anda dengan visi itu. Insyallah hidup kita akan bergerak kesana.(Nilna Iqbal)




Kamis, 07 Januari 2016

Sebungkus Nasi Cintaku

Satu bungkus nasi pagi ini aku bawakan untukmu dengan niat agar memperoleh perhatian dan rasa cinta darimu, tapi ternyata bungkusan nasi yang sengaja aku belikan buatmu itu kau tampik begitu saja, padahal sudah kubawakan jauh-jauh. Apalagi  aku sendiri saja belum makan, tapi aku yakin sepertinya bisa melebihi rasa bahagianya orang yang kenyang makan seandainya kamu mau menerima sebungkus nasi itu, namun setelah itu aku kecewa karena kau tampik nasi bungkus itu? 

Ya, hampir saja tapi akhirnya Tidak! karena ternyata ketika dalam perjalananku pulang aku berpapasan dengan seorang pengemis tua, sebelum beliau memelas dan berkata bahwa dia belum makan selama tiga hari, ya aku bisa membaca dari raut mukanya yang kecapaian dan  lusuh itu. Aku sodorkan dengan penuh senyum bungkusan nasi yang kamu tampik tadi, dia begitu bahagia, dia begitu menikmatinya. Kalau saja kamu mau menerimanya sekalipun mungkin aku tidak bisa lebih bahagia seperti sekarang ini.

Ketika melihat pak tua itu memakannya dengan penuh lahap, perasaan bahagia disetiap potong suapnya. Lihatlah! Dia memakannya dengan penuh cinta. Aku yang sedari tadi hanya bisa heran, bengong, menelan ludah dan semakin merasa kelaparan kemudian ikut asyik usil membantunya menghabiskan nasi bungkus itu, pak tua itu malah tertawa, sekejap berikutnya aku dan dia bisa menjadi seorang teman gara-gara nasi bungkus yang kau tampik tadi. 


Kamu tahu aku benar-benar menemukan cinta didalam nasi bungkus itu melebihi perkiraanku, aku juga menemukan perhatian, ya perhatian Tuhan langsung untukku…. 

Terima kasih Tuhan, hari ini telah Engkau buat aku bahagia melebihi keinginanku sendiri untuk bahagia, dari sesuatu hal yang sebelumnya ku anggap sebagai hal yang sangat mengecewakan bagiku.(Esabi Wibowo)

Rabu, 06 Januari 2016

Buatlah Keputusan Yang Benar




“Hal kecil yang membuat perbedaan besar sekali … itulah dia, keputusan!”

Tiap hari saya belajar membuat keputusan. Saya semakin menyadari alangkah bahaya sekali jika hidup kita diserahkan begitu saja pada “belenggu rutinitas“. 

Kita membiarkan hidup kita mengalir begitu saja, lalu tanpa kita sadari, usia kita sudah bertambah tua. Anak semakin besar, kulit makin keriput, tenaga makin melemah, otak tambah pikun. Bisa jadi sebentar lagi, mati!

Ketika saya menengok ke belakang, berhenti sejenak, merenung, bertafakkur, menghisab diri … alangkah malunya saya dengan “laporan-laporan” yang saya “baca“. 

Kinerja amal shaleh saya masih amat sangat sedikit. Pertumbuhan prestasi cenderung menurun. Pertambahan pengetahuan tidak begitu banyak. Ah, memalukan sekali!

Buat saya laporan kehidupan itu penting sekali. Saya jadi “ngeh” ternyata banyak sekali dalam kehidupan masa lalu saya, berbagai hal tidak pernah saya putuskan dengan benar. 

Saya membiarkan diri saya berada dalam “pengaruh angin“. Kemana angin kencang, kesana saya terbang. Saya tak mau mengambil sikap. Saya takut menentang angin. Saya cenderung bergerak apa adanya. Saya jadi tersenyum kecut, mungkin saya nggak jauh beda dengan bangkai yang terus dibawa arus gelombang.

Ya! “Hanya ikan yang hidup yang bisa menentang arus!”
***

Ada satu hal yang sering menyebabkan saya “tidak mengambil keputusan secara benar”. Saya membiarkan diri saya berada dalam “tawanan kebiasaan" saya, dalam rutinitas-rutinitas yang secara otomatis-refleks terjadi begitu saja. Akibatnya saya “tidak sadar” bahwa saya telah mengambil keputusan.

Saya kurang awas dengan situasi. Dalam keseharian, sebenarnya sering kita berada dalam situasi pengambilan keputusan. Karena adanya perasaan tidak-penting, biasanya keputusan dan pilihan-pilihan yang kita ambil berlalu begitu saja, umumnya refleks, spontan, otomatis, cepat.

Semakin cepat gerak laju kehidupan kita, semakin banyak keputusan-keputusan instan yang kita lakukan. Umumnya prosesnya sederhana dan pasti sebagian besar “tidak dipikirkan secara mendalam“. Beberapa diantaranya diambil sambil makan pagi, sambil bercengkerama, bahkan sambil menerima telpon.

Tidak masalah memang bila keputusan-keputusan itu tidak mempunyai dampak yang besar. Akan tetapi tidak jarang keputusan-keputusan yang kita ambil sambil makan malam misalnya, bisa memiliki pengaruh bertahun-tahun kemudian, yang baru kita sadari setelah berjalan cukup jauh. Beberapa diantaranya bisa jadi dipengaruhi oleh karakter-karakter kita.

Saya akui, saya punya satu kelemahan yang cukup fatal. Saya adalah seorang koleris sanguinus, menurut pola kepribadian-nya Florence Litteur. Ya, itulah saya. Akibatnya saya mudah sekali membuat keputusan-keputusan secara instant, mendadak, dan kadang tanpa pertimbangan. Apalagi jika koleris saya yang terpancing. Memang saya harus terima kenyataan, banyak keputusan-keputusan saya di masa lalu dipengaruhi sifat saya ini.

Itulah sebabnya saya perlu sekali “belajar membuat keputusan yang saya inginkan“. 

Saya tahu kelemahan saya yaitu karakter koleris sanguinis saya sangat dominan saat berada dalam situasi pengambilan keputusan. Saya juga tahu betapa hebatnya dampak sebuah keputusan, apapun itu, dalam arah kehidupan saya. Tentu saya tak boleh asal-asalan. Tentu saja saya tak ingin menyesal dan merasa terpenjara oleh keputusan-keputusan yang telah saya ambil.

Setiap hari, saya membuat keputusan: besar ataupun kecil. Setiap saat saya berada dalam keadaan memilih. Baik saya sadari atau tidak. Artinya, setiap hari saya lah yang memilih takdir saya sendiri. Baik pilihan itu karena saya suka atau karena saya terpaksa. Baik karena saya ingin membahagiakan diri saya, ataukah karena saya ingin membahagiakan orang lain. Atau mungkin juga karena saya tidak tahu apa-apa, lalu saya asal-asalan saja memilih diantara beberapa opsi keputusan.

Yang jelas, sebenarnya tetap saja, saya lah akhirnya yang “membuat keputusan”. Bukan orang lain!

Saya sadar betul, apa pun keputusan yang saya pilih, hasilnya pasti sangat mempengaruhi kehidupan saya dan keluarga saya. Karena itu saya perlu sekali untuk terus belajar “membuat keputusan” secara benar. Saya harus terus belajar “membuat keputusan yang saya inginkan”, bukan yang “orang lain inginkan!”.

Saya ingat sekali betapa banyak keputusan-keputusan yang salah yang saya lakukan di masa lalu. Jadilah potret kehidupan saya … ya seperti sekarang ini. Apa yang saya peroleh hari ini adalah hasil dari keputusan saya dulu-dulu. Tentu sudah tak ada gunanya lagi menyesali apa yang saya terima hari ini. Sekarang, ia sudah menjadi takdir yang tak mungkin saya ubah!

Tapi saya percaya sekali, sebenarnya di waktu-waktu dulu itu, saya telah diberi Tuhan kebebasan untuk “memilih takdir” yang saya ingini. Waktu itu saya diberi kekuasaan oleh Allah SWT secara bebas untuk memilih jalan hidup saya. Seharusnya waktu itu saya bisa “membuat takdir” hidup saya berbeda dari takdir saya hari ini. Sayangnya, saya membiarkannya saja. Saya tidak membuat pilihan. Saya tidak memilih. Saya tidak mengambil keputusan. Saya “dipilihkan”.

Menyadari hal itu, saya menyesal sekali. Tapi sesal memang selalu tak berguna. Yang perlu saya lakukan cuma satu, “focus on future“, fokus pada masa depan.

“I am responsible with my life!”

Sayalah yang bertanggung jawab terhadap masa depan saya. Bukan orang tua saya, bukan istri saya, bukan anak saya, bukan guru saya, bukan ustad saya, bukan bos saya, bukan relasi saya. Hanya saya!

Maka, dengan segenap kekuatan mental yang masih tersisa, dengan sisa kepercayaan yang masih terjaga, saya bersorak, “I change!”

Sayalah yang harus berubah. Saya harus fokus pada apa yang perlu saya ubah di dalam diri saya. Saya tak mau fokus pada “mengubah orang lain”. 

Bukan lingkungan saya yang harus berubah. Bukan orang tua saya yang harus berubah dan mengerti saya. Bukan istri saya yang harus mengubah sikapnya agar sesuai dengan keinginan saya. Bukan anak saya yang harus mau mengubah perangainya agar melakukan apa yang saya mau. Bukan rekan bisnis saya yang harus mati-matian saya ubah sudut pandangnya. Bukan! Sekali lagi bukan itu.

I change! Saya yang pertama sekali harus berubah.

Saya harus berani mengambil tanggungjawab terhadap sisa perjalanan hidup saya. Apakah hidup saya akan berakhir dengan hustul khatimah (akhir yang baik yang mendapat ridlo Ilahi), atau jatuh menjadi su’ul khatimah (akhir yang celaka) … saya yang harus mengambil tanggung jawab itu. 

Saya lah yang bertanggung jawab! Inilah keputusan paling penting yang mesti saya tetapkan dengan segala kandungan kekuatan maknanya!

Saya harus taubat!!!
Kembali ke jalan-Nya
Meneladani rasul-Nya
Mempelajari din-Nya
Menjaga diri dan waspada …
atas rayuan syetan yang terkutuk!
Semoga Allah swt senantiasa melindungi saya ... (Nilna Iqbal)










open