Rabu, 28 Februari 2018

Papan Nama Jalan


“Kawanku baru pulang dari Medan. Dia cerita nama jalan di kota itu dipasang dengan tulisan besar-besar. Dari jauh jadi kelihatan,” kata Lukman.

“Betul-betul itu. Malah di Jogja papan namanya ditulis dengan bahasa Jawa,” sambung Soleh.



“Ya banyak kota membuat papan nama jalan disesuaikan dengan kondisi. Malah ada yang pakai nasehat agama,” kataku.

“Kalau di Jawa Tengah bolehlah dipasang juga tulisan Jawa. Cuma kalau di Jakarta, bagaimana? Apa mau pakai bahasa Betawi?” kata Soleh.

“Kupikir kalau Jakarta tak perlu pakai bahasa Betawi. Kan Jakarta, ibukota,” kataku.

“Cuma kulihat papan nama jalan yang dipasang nggak sebanding sama jalannya,” kata Soleh.

“Maksud kau,” desak Lukman.

“Lihat saja. Papan nama Jalan Gajah Mada kecil, lebih besar nama Jalan Zainul Arifin atau pun Sumur Batu. Padahal Jalan Gajah Mada jalan protokol,” kata Soleh.

“Ya juga. Di Harmoni kulihat tak ada papan nama Jalan Gajah Mada. Yang ada dekat Jalan KH Hasyim Ashari dan di perempatan Ketapang-Sawah Besar,” kata Lukman.

“Juga perkantoran dan pertokoan diminta juga memasang nama jalan dibawah nama kantor dan toko. Jadi orang tahu,” kataku.

“Ada lagi yang aneh,” kata Lukman.

“Apa lagi yang aneh,” desak Soleh.

“Kulihat di Jalan Kwini I misalnya, ada lagi papan nama bertuliskan, Sal. Penghub. Senen. Apa ini nggak bikin bingung orang,” kata Lukman.

“Ya juga. Bingungnya lagi kalan nama jalannya dipaku di pohon. Papan nama Jalan Abdurahman Saleh pernah begitu. Lama dibiarkan, akhirnya baru dipasang di tiangnya,” kataku.

“Hebatnya lagi , papan nama Merdeka Selatan ada tiga di depan kedubes AS,” kata Soleh.

“Mentang-mentang ada Balaikota. Atau supaya Anies lihat kali,” kata Lukman.

“Tapi kan itu nggak benar. Atau apa ini dianggap kecil,” kataku.

“Kecil tapi punya arti. Coba dibenahi, kan Jakarta bisa tambah cakep,” potong Soleh.

“Apalagi Anies kan Gubernur baru dan ada rencana merubah nama sebuah jalan. Bagus kali kalau papan nama jalan di Jakarta sudah bisa dibenahi,” kata Lukman.

“Kalau perlu tulisan namanya pakai skotlite, jadi malam kena sorot jelas kelihatan,” kataku.

“Anies kan tinggal instruksikan walikota bikin pilot projek di wilayahnya masing-masing, bisa beres itu semua,” kata Soleh. (Poskota-lubis1209@gmail.com).

 

Jalan Tol


JALAN tol itu jalan berbayar. Artinya kalau mau lewat jalan itu harus bayar. Jalan tol pertama di Indonesia adalah jalan yang mengubungkan Jakarta-Bogor-Ciawi makanya disingkat jadi JAGORAWI.
 
Jalan itu mulai dibangun 1973 dan diresmikan Presiden Soeharto 9 Maret 1978. Ketika dalam pembangunan, jalan itu berupa jalan umum. Artinya siapa saja boleh lewat di jalan itu, tidak bayar.

Begitu jalan Jagorawi selesai dibangun, pemerintah berpikir agar biaya operasional dan pemeliharaannya tidak dibebankan kepada APBN. Menteri Pekerjaan Umum (PU) waktu itu Ir Sutami usul agar siapa saja yang lewat jalan itu dikenakan bayaran. Alhasil namanya berubah jadi jalan berbayar, alias jalan tol.

Usul Sutami diterima. 25 Februari 1978 pemerintah mengeluarkan PP nomor 4 tahun 1978 tentang Penyertaan Modal Negara RI untuk pendirian persero yang mengurusi dan mengelola infrastruktur jalan raya. Lalu 1 Maret 1978 lahir PT Jasa Marga.

Kalau tidak salah, biaya pembuatan Jagorawi akan impas setelah 30 tahun. Setelah itu, pengoperasian jalan tol itu diserahkan kepada pemerintah. Karena sudah impas, maka bisa saja jalan itu sudah jadi jalan umum biasa.

Artinya lewat jalan itu tidak bayar lagi. Tapi pemerintah punya alasan, jalan itu tetap jalan tol karena diperlukan biaya untuk operasional dan pemerliharaannya. Belum lagi dari situ dikembangkan jalan tol lainnya, maka sampai sekarang Jagorawi tetap jalan tol. Begitulah kebijakannya, aneh kan….?

Jalan tol disebut juga jalan bebas hambatan. Artinya tidak ada hambatan. Kalau tidak ada hambatan, berarti lancar. Tapi sekarang banyak tol banyak hambatan.

Jalan tol dalam kota Jakarta, sering bikin kesal. Begitu masuk tol bayar, lalu kena macet. Malah terkadang jalan alternatifnya yang lancar.

Jalan tol Jakarta-Cikampek begitu juga. Dulu bisa ke Bandung bisa ditempuh paling lama 2 jam 30 menit. Sekarang kalau dari Jakarta, dengan waktu 2 jam 30 menit paling baru sampai Bekasi Barat atau baru sampai pintu tol Cikarang Utama.

Sultan Hamengkubuwono X pernah mengemukakan, di daerahnya tidak akan dibangun jalan tol. Kewajiban pemerintah membuat jalan untuk rakyat, “Kok kayak jaman penjajahan aja jalan di pakai harus bayar..!” ujar Sultan.

Boleh kita acungkan jempol untuk sikap Sultan Yogya ini. Sampai sekarang di daerahnya belum ada jalan tol. Tapi kan tidak semua kepala daerah bisa seperti Sultan Yogya.

Kita tahu sekarang ini, di mana-mana jalan tol berkembang. Orang bilang lagi in. Jadi jalan tol sudah jadi ladang bisnis. Kita tidak bisa salahkan. Cuma, apakah harus terus menguasai?

Sementara ada yang bilang jalan tol cuma bikin kaya swasta dan asing. Barangkali hal tiu bisa diperdebatkan. Apa iya? Tapi kalau cari untung, ya iya-lah. Sebab mana ada pengusaha mau rugi. Semua mau untung.

Harus juga diingat, bikin jalan kewajiban pemerintah karena merupakan hajat hidup orang banyak. Mengingat pemerintah belum ada dana, swasta yang bikin. Cuma apa jalan-jalan harus ditolkan?

Ya, mari kita bikin seminar saja untuk mencari pembenarannya. Kan kita senang dengan macam-macam seminar. Ayo siapa yang mau bikin duluan? (Poskota - lubis1209@gmail.com)*

 

Minggu, 18 Februari 2018

Jendral Besar Abdul Haris Nasution


Pak Jendral Besar AH Nasution adalah negarawan sejati yang berkomitmen menentang faham komunis tumbuh subur di Indonesia, Beliau adalah cendikiawan militer, peletak dasar perang rakyat semesta dan prajurit sejati yang selalu menjaga kemurnian pancasila dan keutuhan NKRI.

 


Sejumlah wartawan Australia tercengang mendengar jawaban Jenderal Abdul Haris Nasution atas pertanyaan mereka, “Siapa sosok yang Anda kagumi di dunia ini?” Jawaban Jenderal Nasution, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam”. Abdul Haris Nasution, yang lahir di Kotanopan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918, itu memang dikenal sebagai jenderal yang lekat dengan Islam dan taat beribadah, cocok dengan atasannya di era perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, yaitu Panglima Besar Jenderal Sudirman.

 

Semua kisah tentang Jendral Besar ini dapat kita lihat di “MUSEUM JENDRAL BESAR DR.AH NASUTION”, yang belokasi di Jalan Teuku Umar No 40, Menteng - Jakarta Pusat. Museum ini semula merupaka kedianman Pak Nas yang ditempati bersama keluarga sejak menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) tahun 1949, hingga wafatnya pada tanggal 6 September tahun 2000. Sejak beliau wafat, selanjutnya keluarga Nasution pindah rumah. Dikediamann ini Jendral Besar Dr AH Nasution telah menghasilkan sebuah karya juang yang dipersembahkan bagi kemajuan bangsa dan negara.

 

Pada tanggal 1 Oktober 1965 dirumah ini teah terjadi peristiwa dramatis yang hampir menewaskan Jendral Nasution. Pasukan Cakrabirawa G 30S/PKI berupaya menculik dan membunuh Pak Nas, namun hal ini gagal dilakukan. Dalam peristiwa tersebut, putri kedua yaitu Ade Irma Suryani Nasuton dan Ajudannya Lettu CZI PiereTendean gugur. Sedangkan Pak Nas melarikan diri dengan meloncati tembok Kedutaan Besar Negara sahabat yang berada disebelah rumahnya.

 


Ruang Ade Irma Suryani Nasution kamar tidur Ade Irma. Didalam ruangan ini disajikan benda benda Pribadi yang merupakan kesayangan almarhumah, yaitu sebuah baju seragam Kowad mini, tas kulit kecil, sepatu, tempat minum dan boneka. Dan baju Ade Irma yang dipakai sat trafedi tersebut berlangsung.

 

Selain ruang tersebut ada juga Ruang Kuning, karena dicat wana muning baik tembok, karpet maupun gorden senua memakai warna kuning. Ruag Kuning ini oleh Pak Nas, digunakan sebagai tempat menerima tamu VVIP baik dari dalam maupun luar negeri termasuk menerima Raja Salman sewaktu beliau masih jadi Pangeran.

 

Sebagai tempat untuk menerima tamu dari kalangan militer, kerabat, dan masyarakat, biasanya Pak Nas menerimanya di Ruang Tamu. Di Ruangan ini terpampang beberapa foto bersejarah Pak Nas, saat menjadi Panglima Divisi Siliwangi,KSAD, Menkohankam/Kasab, Ketua MPRS dan foto ketika jadi hari ke 52.Di ruangn ini pula disajikan cindera mata dan kenang-kenangan dari dalam dan luar negeri. Antara lain dari Akademi Teknik Wajskawej Warsawa, Odecca Rusia, Gading Gajah dari Komandan Brigade Garuda II/Konggo serta satuan tempur siliwangi, dan kursi favorit Pak Nas.

 

Ruang Tidur merupakan saksi bisu dari kekjaman G 30 S/PKI yangb berupa menculik dan membunuh Pak Nas, Kejadian penting tanggal 1 Oktober 1965, menewaskan putri kedua Pas nas yaitu Ade Irma Suyani Nasution oleh pasukan Cakrabirawa. Diruangan ini terdapat bekas tembakan yang mengenai pintu, tembok serta meja milik keluarga Pak Nas. Benda benda pribadi yang dipakai saat itu oleh Pak Nas, semasa hidupnya juga ditampilkan disini.

 

Pada ruang makan disajikan diorama yang menggambarkan kejadian setelah Pak Nasberhasil menyelamatkan diri dari upaya pembunuhan, seseaat setelah Pak Nas berhasil menyelamatkan diri kemudian Ibu Nasution menghubungi Mayor Jendral Wirahadikusuma yang saat tu menjabat Panglima Kodam Jaya. Namun usaha itu gagal karena hubungan telepon sudah diputus, saat bersamaan muncul lima prajurit Cakrabirawa dengan menodongkan senapan dan menggertak Ibu Nasution mengatakan bahwa “Telepon sudah kami putus”..! Bu Nasution sambil meggendong Ade Irma menjawab “Kalian kesini cuma mau membunuh anak saya…!”

Ide-ide besar buah pikiran Jendral Nasution keluar dari sebuah ruangan yang bernama Ruang Kerja, baik dalam bidang militer maupun non militer. Didalam ruang kerja ini juga telah dihasilkan beberapa karya beliau, sebagain beliau sajikan dalam etalase sebagai bentuk penghormatan dan penghargan atas prestasi yang dicapai dan disumbangkan pada Negara dan bangsa.

 


Ada satu lagi ruangan yang bisanya dipakai tempat tinggal Lettu Piere Tendean, ajudan Pak Nas. Beliau menjadi korban karena mengaku sebagai Pak Nasution, dia diseret  ke dalam truk oleh PKI selanjutnya di bawa ke Lubang Buaya dalam keadaan masih hidup.

 

Demikianlah sekilas museum “Jendral Besar AH Nasution”, yang diharapkan dapat dijadikan media multi fungsi untuk belajar sejarah, mengenai sosok Pribadi dan karya juang Pak Nas serta media transformasi nilai nilai luhur yang beliau tinggalkan.

 

Selasa, 06 Februari 2018

Memanusiakan Manusia


DENGAN berubahnya transaksi bisnis, percepatan perubahan, dan berbagai perkembangan teknologi, urusan etika dan sikap kerja seolah kurang mendapat perhatian. Terkesan bahwa etika bukan lagi hal yang penting untuk dibicarakan. Kita seperti kurang tergugah untuk memikirkan dasar-dasar etika dalam bertindak. Kita mengelu-ngelukan mereka yang bersalah dan menghujat orang yang bertindak benar. Namun, cara kita menghina atau mengelu-elukan mereka pun juga tampak tak peduli etika.
 

 


Kita lupa bahwa perilaku kita dalam bertindak, bereaksi, menegur, dan mengoreksi bisa juga merendahkan atau meninggikan martabat kita sebagai manusia. Bagaimana dengan tempat kerja? Apakah tempat kerja, yang tengah digeruduk oleh para milenial, juga beranggapan bahwa etika tidaklah penting? Apakah pencapaian financial menjadi prioritas utama dan satu-satunya? Sejenak kita perlu bertanya, hasil macam apakah yang akan diciptakan atau diinovasikan oleh individu-individu maupun organisasi yang tidak memedulikan etika?

 

Belakangan ini, EXPERD yang dikenal sebagai sekumpulan ahli ilmu manusia kebanjiran permintaan pelatihan ataupun riset terkait perbaikan sistem pengelolaan manusia. Para pemilik perusahaan dan manajemen puncak mulai menyadari adanya hal-hal lain selain aspek kognitif yang dibutuhkan untuk mengembangkan organisasi. Seberapa pun ahlinya individu, bila ia tidak memperhatikan perilaku dan etikanya, pada suatu saat ia dan juga organisasinya akan menghadapi kesulitan.

 

Etika sebetulnya memang dibuat manusia. Etika adalah standar acuan atau tidak baiknya tindakan seseorang, dengan mempertimbangan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih luhur seperti keadilan, kejujuran, penghormatan pada sesama manusia, kesehatan lingkungan, dan hal-hal lain yang lebih luas dan lebih tinggi. Namun, dengan adanya perbedaan pandangan antargenerasi, termasuk dalam penghayatan etika bisnisnya, pengabaian terhadap nilai-nilai luhur ini kemudian menjadi problem yang serius. Sudahkah kita memikirkannya?

 

Urgensi pemikiran etis

Kita sekarang dihadapkan pada berbagai tontonan yang menyeramkan. Plagiarisme tanpa rasa malu, sadisme kejahatan yang terekam kamera, dan senyum semringah para koruptor di media, membuat diskusi publik menjadi ramai dan dipenuhi perang komentar. Namun, pernahkah kita bertanya: apakah saya sendiri juga menjunjung tinggi etika dalam bekerja, dalam berinteraksi di organisasi, ataupun dalam berkomunikasi di media sosial?

 

Sehebat-hebatnya prestasi dan produktivitas, bila tidak dibarengi dengan sikap dan etika yang relevan, dampak negatif nya akan dituai di kemudin hari. Orang-orang yang tidak menjaga sikap dan etikanya di lingkungan organisasi sudah pasti adalah orang-orang yang tidak peka, terutama dalam memersepsi lingkungan sosialnya. Mereka tidak tahu bahwa orang lain bisa tersinggung oleh percakapannya, merasa dirugikan karena dijelek-jelekan, ataupun tidak menikmati suasana bekerja lagi. Sikap sangatlah bisa memengaruhi suasana kerja.

 

Sebenarnya apa dampak yang paling signifikan pada organisasi yang tidak memikirkan etika para anggotanya? Pada saat tejadi perubahan, organisasi ini akan sulit bergerak. Benak para individu tidak lagi alert. Ketidakwaspadaan ini disebabkan karena orang tidak terbiasa untuk memikirkan hal-hal di luar dirinya, termasuk organisasi. Pikirannya terpusat pada keselamatan dan keuntungan dirinya saja.

 

Urgensi mengejar harkat yang lebih tinggi

Di mana-mana kita menyaksikan berbagai bentuk tindakan tidak etis seperti korupsi, tertidur di dalam rapat, adu jotos di dalam persidangan, atau orang yang mendadak “lupa” akan ikrarnya. Orang-orang yang jujur, berintegritas, dan bertindak lurus menjadi sehingga kelihatan bersinar dibanding yang lain. Ini adalah timing terbaik bagi kita untuk meningkatkan daya saing di antara mereka yang sama-sama pintar, berpendidikan, dan berpengalaman. Nilai-nilai apakah yang bisa membuat kita stand out dibandingkan kebanyakan orang?

Pertama-tama, keterandalan. Kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah selama ini kita bisa mewujudkan apa yang kita katakan dan janjikan? Apakah kita bisa men-deliver hal-hal yang diharapkan orang lain? Demikian pula dengan dedikasi. Kita juga sudah jarang membicarakan isu ini. Kita seolah hanya menjadi penonton dari kisah-kisah para heroes yang mendedikasikan dirinya di pelosok-pelosok desa untuk menolong orang melahirkan, membantu anak-anak belajar, dan menyelamatkan lingkungan. Namun, kita lupa bahwa sebagai profesional, politikus, atau pekerja pabrik, kita juga bisa menampilkan dedikasi yang tinggi. Dalam berkarya bagi organisasi sesungguhnya kita tengah dilatih untuk berpikir tentang “kita”, bukan hanya “saya”.

 

Marilah kita berupaya untuk menjadi orang yang tidak hanya pandai berdiskusi dan memecahkan masalah, tetapi juga mau memikirkan orang lain, menunjukan dedikasi dan keterandalan, serta berpikir besar bagi organisasi tempat kita berada. Etika memandu tindakan, cara berpikir, dan cara bereaksi kita terhadap sesama. Kekuatan kognisi saja tidaklah cukup untuk menciptakan kesejahteraan bagi semua. Dunia ini membutuhkan manusia-manusia yang mampu menunjukkan respek, kooperatif, dan memikirkan hal-hal penting yang lebih besar dan lebih luas daripada dirinya sendiri. “You are personally responsible for becoming more ethical than the society you grew up in”. Eliezer Yudkowsky. Jangan lupa, etikalah yang membedakan kita sebagai manusia dari semua makhluk yang ada di muka bumi ini.(Expert)

 

 

Rabu, 24 Januari 2018

Pelihara Hewan Liar


Memelihara hewan liar tapi jinak lainnya, adalah suatu kebanggan tersendiri.  Bagi setiap manusia, tantangannya adalah mempunyai hati untuk saling menyayang sesama mahluk Allah. Biasanya masyarakat yang hobi memelihara dan membeli satwa liar sering kita jumpai pada masyarakat perkotaan. 

Hampir setiap minggu pada saat car free day, didepan Gedung Sarinah Jakarta. Ada anggota komunitas pecinta hewan yang berkumpul untuk memamerkan hewan kesayangannya. Mulai dari Iguana, kucing hutan, bajing, musang, ular dll.


Memelihara ular, mungkin bagi sebagian orang merupakan hal yang tidak lazim karena karakter ular yang ganas. Maupun rasa takut yang timbul dari dalam diri mereka sehingga mereka menganggap bahwa memelihara ular adalah hal yang tidak biasa. memelihara ular adalah hal yang Luar biasa! Memang di alam mereka akan bersikap defensif, namun pada dasarnya ular akan menghindari manusia, insting defensif memang melekat pada ular yang ditemukan atau dibawa dari alam, namun ada juga yang dari alam memang sudah jinak dan jarang menggigit.

Ular butuh kasih sayang seperti kita memelihara hewan lain baik itu kucing atau anjing. Sejak kita memelihara ular, perlakukanlah mereka sebagai hewan peliharaan, memberi makan mereka secara rutin, peduli akan kesehatan mereka.
 

Tapi walaupun kita sayang dan care, aku sebenarnya nggak setuju dengan memelihara hewan liar. Dengan membeli dan memelihara satwa liar sama saja kita mendukung proses percepatan punahnya satwa tersebut dari habitat alam aslinya. Menurut undang-undang no 5 tahun 1990 tentang “Eko System Konservasi Sumber Daya Alam”, jangankan memiliki  perbuatan mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan atau sarang satwa yang dillindungi, akan terkena sangsi.

Oleh karena itu sudah seharusnya kita yang hobi dan gemar memelihara hewan liar, sebaiknya memberi kesempatan pada hewan2 itu untuk dapat hidup ditempat aslinya, karena dengan membiarkan mereka hidup dialamnya, maka kelestarian hewan terjaga sehingga keseimbangan alam berjalan secara alami. Buat yang hobi melihara hewan liar, aku berpesan bahwa mereka tetap hewan liar walaupun jinak dan masih harus dianggap berbahaya.

 

 

 

Belajar Pada Anak


Tak selamanya orangtua selalu benar. Terkadang, banyak orangtua yang justru mendapat banyak ilmu dari anak mereka. Banyak pengalaman yang pernah kita alami, contohnya ketika aku menyuruh anakku laki-laki namanya Deny, menutup pintu. Saat itu, aku nggak mendengar anakku berkata “Iya” karena suaranya kecil. Merasa tak mendapat respon dari Deny, aku lantas menaikkan nada bicara untuk menutup pintu. Lalu anakku berkata, "Pa, kenapa sih papa enggak bisa pelan-pelan nyuruhnya."

 


Setelah aku mendengar ucapan Deny, lantas terenyuh hatiku dan meminta maaf padanya. Memang "itu hal sederhana tapi aku banyak belajar dari Deny. Anakku  baru berumur 7 tahun tapi sudah bisa jadi guru buat kehidupan ahlakku".

 

Anak belajar dari lingkungan dan kehidupannya sehari hari, jika kita mudah untuk meminta maaf padanya maka insyaallah dia akan menjadi orang yang pemaaf. Kita jangan merasa tidak punya harga diri jika kita minta maaf kepada anak, karena disitu kita sedang memberinya pelajaran untuk berbudi luhur.

 

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar membenci.
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah.
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan rasa iri, ia belajar kedengkian.
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai.
Jika anak dibesarkan dengan keadilan, ia belajar rasa aman.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar dermawanan.
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran.
Jika anak dibesarkan dengan keramahan, ia yakin sungguh indah dunia ini.

 

Banyak cara untuk memberi pelajaran pada anak, agar dia menjadi seperti orang yang kita inginkan, yaitu anak yang sholeh-sholehah, berbakti pada orangtua dan berguna bagi nusa dan bangsa.(Greenyazzahra)

 

Selasa, 23 Januari 2018

Mental Pembelajar


Seorang teman melakukan upaya lebih hebat dari psikolog sosial manapun yang saya kenal. Ia mendapat tugas untuk menaikkan tingkat kualitas nenas kalengan di pabrik yang ia pimpin dan memutuskan untuk menaikkan tingkat kebersihan gaya hidup para karyawannya. Riset dilakukan ke rumah-rumah karyawan dan upayanya kemudian  berkisar antara pembersihan rambut, dapur di rumah, pakaian para karyawan dan banyak hal lain yang menyangkut gaya hidup karyawan secara keseluruhan. Upaya pembelajaran itu juga tertular ke rumah-rumah karyawan dan akhirnya membuahkan hasil yang sangat signifikan bagi pabrik. “Tidak mudah merubah cara hidup, persepsi dan nilai individu. Namun, bila melihat hasilnya, kita tak akan mundur. Kita akan terus berusaha melakukan pembelajaran, karena peningkatan harkat hidup merupakan keindahan yang tidak ada duanya” demikian komentar teman saya itu.


 


Meskipun pendidikan dan pembelajaran adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan bagai 2 sisi dalam satu koin logam, kita sering terjebak pada paradigma yang yang tidak komplit. Kita sering mengkonotasikan tidak lancarnya pendidikan dengan gaji guru yang kurang, sekolah yang kurang dana, sekolah yang rubuh, ataupun kurikulum yang cenderung tidak berubah. Sementara proses pembelajarannya sering tertinggal dan tidak didalami.


 


Kita pasti bisa mengenali betapa banyaknya hambatan yang menyebabkan proses pembelajaran tidak berjalan lancar dan betapa kita sering menutup mata pada keluarannya. Kita sering tidak mempelajari ”kondisi lapangan” beserta kompleksitasnya sehingga kita tidak tahu apakah pembelajaran ”kena” atau tidak.  Belum lagi, kesempatan ”benchmark” atau ”studi banding” sering tidak kita manfaatkan betul sebagai ”pelajaran”. Kita pasti sadar betapa sering kita membuang muka, dan pura-pura tidak tahu mengenai kesalahan pemahaman, persepsi, ketidakjelasan dalam proses pembelajaran yang tidak kita benahi sampai tuntas. Bahkan, hal yang paling mudah dipersalahkan adalah programnya, pelatih, guru atau dosennya, atau sekalian saja lembaganya.


Ketika Peter Senge (1990) mengeluarkan bukunya  Fifth Discipline banyak organisasi terhenyak dan menyadari betapa mereka hanya berkonsentrasi pada upaya mengajar tetapi tidak berfokus pada pembelajaran. Kita pun, di Negara tercinta ini juga terhenyak bila melihat bahwa pembelajaran yang kita hasilkan sesudah merdeka ini kalah oleh negara tetangga yang pernah mengimpor guru dan dosen dari Indonesia. Kita sangat menyadari bahwa sebenarnya pembelajaran, yang tidak selamanya merupakan hasil dari sekolah dan universitas, banyak gagal ketika kita tahu bahwa mayoritas penduduk masih mau menelan nilai-nilai yang tidak produktif dan positif, serta “awareness” yang kurang terhadap kemanusiaan, lingkungan, moral yang pada akhirnya membawa perlambatan pembelajaran, kalau tidak sampai pada pembodohan.


 


Peter Senge berpendapat bahwa pembelajaran terjadi bila individu secara teratur diberi ruang untuk menemukan dan mengkreasikan realitas yang dihadapi atau dipelajarinya. Dengan demikian, individu dalam setiap tahapan menjadi manusia yang baru, bisa melakukan, memahami atau menghayati  sesuatu yang sebelumnya belum dialaminya, bisa mempunyai persepsi yang berbeda terhadap realita yang dihadapinya, dan menjadi bagian dari terbentuknya generasi yang punya paradigma baru.


 


Untuk menjadikan sebuah organisasi atau bahkan negara pembelajar, kita memang perlu meninjau dan membangun kembali beberapa aspek sikap mental. Hal-hal ini perlu kita tekuni dan yakini dengan penuh kesabaran, sehingga menjadi sebuah kumpulan keyakinan dan obsesi kita:


 


Jangan Meraba-raba


Secara “back to basic” marilah kita tinjau sikap kita mengenai akurasi dan presisi. Kita perlu belajar untuk tidak asal cuap, ngawur, atau mengira-ngira data dan fakta yang sebenarnya bisa dicari dan dibuktikan. Sudah banyak contoh membuktikan bahwa ketidakakuratan dalam pencarian fakta menyebabkan negara rugi bermilyar-milyar US dollar. Dan, karena mayoritas masyarakat sudah terbiasa hidup dalam  ketidakakuratan, menyukai “plesetan”, tidak ada pihak tertentu yang berobsesi untuk memperoleh data yang benar.

 

Eksperimen dan Riset Tidak Selalu  di Laboratorium

Dari seorang eksekutif yang berhasil, saya belajar bahwa dalam kegiatan sehari-harinya ia banyak memberi judul “riset” atau “eksperimen” terhadap kegiatan-kegiatan ”mencari tahunya”. Misalnya,”Saya sedang meriset, kamera mana yang paling baik di beli Canon atau Nikon” atau “Saya sedang melakukan eksperimen, apa efeknya kalau saya makan sawi saja selama seminggu”. Tanpa disadari, eksekutif ini melakukan pembelajaran yang sistematis dan meningkatkan kesadarannya dalam memperoleh pengetahuan baru. Ini sangat  berguna bagi kita yang memang selalu harus memperluas cakrawala, mendapat ide-ide baru  melalui kesulitan dan  kesempatan  yang kita alami.

 

Belajar di Mana Saja, Pada Siapa Saja


Dalam budaya paternalistik yang kita pegang, paradigma bahwa otoritas adalah yang paling tahu, paling bijak dan paling menguasai masalah, tentunya harus kita hapus cepat-cepat, karena menghambat pembelajaran. Sudah waktunya kita mengerahkan siapa saja untuk belajar dari mana saja dan siapa saja, serta menguakkan, mengadopsi, menganalisa, menemukan persepsi dari sisi lain ”best practise” dalam implementasi, penyelesaian  pekerjaan, sikap kerja. Best practice yang sangat bisa kita tiru adalah banyak organisasi yang kini komit untuk menerapkan sistem ’lesson learnt’, di mana kesalahan dan perbaikan sistem akan disebarluaskan ke seluruh organisasi dan diperlakukan sebagai studi kasus, sehingga setiap individu yang tidak mengalaminya akan belajar dari kejadian ini juga. Beberapa organisasi menyebutkan kegiatan ini sebagai ”Santayana Review” yang berasal dari ahli filsafat George Santayana yang pernah menyatakan: “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.”.


Kita juga bisa belajar kembali, bagaimana cara kita mengajukan pertanyaan dalam mengambil keputusan, menggali pendapat dan masukan orang lain, apakah bawahan, atasan, para ahli bahkan para remaja. Pengetahuan sudah bukan milik elite tertentu lagi. Kita bodoh kalau menghambat tersebarnya segala macam pengetahuan di organisasi kita. Tentunya cara yang ”friendly” untuk menyebarkannya perlu dicari dan disesuaikan dengan situasi massanya.(expert).