Rabu, 02 Oktober 2013

Candi Borobudur

          Candi Borobudur sejatinya adalah sebuah bunga teratai atau diibaratkan singgasana seorang Dewa. Bentuk dari stupa yg melingkar tingkatan teratas diartikan sebuah putik pada mahkota bunga teratai.


          Candi Borobudur menyimpan banyak pertanyaan yang belum terjawab hingga kini. Banyak yang berspekulasi hingga menganggapnya sebagai suatu misteri hingga masuk ke wilayah mistis. Bangsa kita memang suka dengan hal-hal yang berbau misteri yang mistis. Penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan justru mengarah pada suatu temuan bahwa Candi kebanggaan kita dibangun dengan cara yang pintar. Jauh dari unsur mistis. Tulisan demi tulisan akan menguak tabir misteri cara membangun candi ini.

          Candi Borobudur memiliki design arsitektur yang menawan. Batu yang terpasang pada candi, dalam jumlah cukup besar berupa relief dan arca yang menghiasi hampir seluruh permukaan candi. Hal ini berarti candi borobudur sebenarnya adalah bukan bangunan yang secara metode pelaksanaannya sulit, tapi bisa dikatakan sebagai bangunan seni dan arsitektur yang terbesar.  Mungkin karena alasan arsitektur dan seni inilah yang membuat pelaksanaan candi berjalan dalam waktu yang lama, jadi bukan karena kesulitan mengangkat batu.


          Batuan digunakan sebagai pembentuk candi dan sebagai media relief dan arca candi. Setiap batu disambung tanpa menggunakan semen atau perekat. Batu-batu ini hanya disambung berdasarkan pola dan ditumpuk. Bagaimana tumpukan batu yang tanpa disemen atau diplester tak lepas? Jawaban dari tetap menyatunya tumpukan batu tersebut adalah pada pola penyusunanya. Disinilah keunggulan dari konstruksi awal candi yang membuatnya tetap bertahan ribuan tahun. Para pendahulu kita telah merancang pola tumpukan batu sedemikian rupa dengan teknik penguncian. Batu-batu dibentuk agar dapat terkunci satu sama lain.

     Hal yang paling banyak dicerca mengenai Candi Borobudur adalah mengenai kebersihannya. Banyak sekali sampah yang menggunung di luar pagar candi, belum lagi toliet yang gelap dan kotor. Hal tersebut tentu saja mendapat nilai minus dimata wisatawan, apalagi Candi Borobudur adalah tempat wisata bertaraf internasional. Semoga saja, jika ada kesempatan mengunjungi candi ini untuk kesekian kalinya, hal – hal tersebut segera dibenahi.


          Berwisata tanpa belanja souvenir kurang afdol. Setelah turun dan akan kembali ke kendaraan diparkir, kita akan dilewatkan pada deretan pedagang souvenir menarik dari mulai baju batik, pernak-pernih, miniatur stupa sampai cobek batu asli. Dalam berbelanja kita harus pandai-pandai menawar agar barang yang dibeli nggak kemahalan. Selain itu juga ketelitian dalam memilih kualitas barang yang dibeli sangat penting.

          Menikmati keindahan Candi Borobudur terasa kurang bebas dan puas jika kesana pada saat musim liburan, karena candi akan dipenuhi pengunjung. Tipnya adalah berkunjunglah ke Candi Borobudur pada saat nggak musim liburan, maka akan puas menikmati dan merasakan hembusan udara sejuk.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar