Rabu, 02 Oktober 2013

M o t i v a s i

Banyak orang setuju bahwa motivasi itu bagai misteri. Kita pun sering tidak mengenal penuh motivasi dalam diri kita. Apa yang membuat saya bersemangat? Apa yang membuat saya melompat dari tidur saya di pagi hari. Apa yang membuat saya ceria mengerjakan sesuatu walaupun badan lelah. Beberapa teori utama yang membahas kebutuhan manusia juga seringkali bisa tidak relevan dengan motivasi orang bekerja di masa sekarang. Betulkah untuk merangsang para salesman diperlukan ‘upah komisi’ tok? Apakah seorang salesman tidak punya keinginan berprestasi sendiri, menghargai dirinya serta  mencintai pekerjaannya?

Betulkah aktualisasi diri tergolong kebutuhan yang terakhir hirarkinya dan baru muncul sesudah kebutuhan lain terpenuhi? Apakah tidak ada diantara kita, orang yang sangat bersemangat melakukan sesuatu atau menjual produk tanpa terlalu hitung-hitungan mengenai berapa imbalan yang ia dapat? Bukankah kita melihat bahwa banyak sekali orang, demi ‘passion’-nya juga tidak menunggu “sandang-pangan-papan”-nya cukup, untuk menghasilkan karya-karya yang hebat? Bukankah para anggota pasukan khusus tentara juga tidak menunggu jaminan kesejahteraan sebelum berjuang dengan motivasi  ‘all out’ membela negara? Sebaliknya, kita juga banyak melihat gejala di mana individu yang mendapatkan gaji yang relatif ‘cukup’ malah tidak tergerak mengejar target. Dengan kata lain, berhenti di kepuasan fisik  dan rasa aman saja.


Memang ada orang dan tim yang tidak mementingkan untuk menghidupkan motivasinya secara optimal, bahkan mungkin tidak merasa bahwa motivasi itu penting. Namun, dalam tuntutan situasi seperti sekarang, sulit dibayangkan bila individu, tim dan perusahaan, hanya mengandalkan kekuatan pikir dan fisik saja. Kreativitas dan value adding mustahil berkembang jika tidak didukung motivasi individu dalam kelompok atau organisasi. Bahkan, nilai motivasi bisa jadi lebih besar pengaruhnya terhadap keberhasilan, daripada nilai kompetensi lainnya. Mungkin ini sebabnya instansi pemerintah pun mulai memperhitungkan motivasi pegawai negeri dalam pengembangan sumber dayanya.

Tumbuhkan “Sense of Progress”
Seorang ahli manajemen membuat penelitian terhadap 12000 karyawan, yang terdiri dari pekerja kasar sampai pada para eksekutif. Ia menemukan ‘sense of progress’ sebagai hal yang paling membuat karyawan ingin maju dan berprestasi ketimbang faktor lain, seperti suport internal, teknikal serta kolaborasi tim. Mungkin ini juga alasan bahwa perusahaan perusahaan servis yang mengandalkan antusiasme karyawannya mengumumkan secara terbuka pencapaian penjualan hariannya, agar setiap karyawan jelas merasakan ‘milestone’ perusahaan, sedang maju, jalan di tempat atau mengalami penurunan.

Bagaimana dengan pekerjaan yang dianggap rutin dan sulit diukur kemajuannya? Seorang karyawan bisa saja mengatakan “Dari tahun ke tahun, saya menyajikan laporan keuangan bulanan terus. Pekerjaan  saya memang itu-itu saja.” Bayangkan betapa sulitnya menjaga motivasi teman kita ini. Dan bayangkan betapa orang semacam ini cepat berkarat dan tua sebelum waktunya. Untuk pekerjaan-pekerjaan rutin jalan terbaiknya adalah memberi perasaan pada teman-teman kita ini bahwa kesempatan belajar selalu ada. Pertanyaan atau bahkan berbagai tantangan bisa kita berikan seputar pekerjaannya, sehingga setiap individu merasakan ‘progress’ belajar dalam dirinya.

Genggam “Passion
Tidak jarang kita temui orang yang sangat pe-de, tapi tidak terlihat antusias. Professional yang berbakat dan trampil sekalipun bisa saja tidak bersemangat. Teman saya seorang pemain bola basket yang berbakat, terpaksa harus menghentikan karirnya sebagai pemain nasional, setelah menemukan bahwa kedua belah kakinya tidak sama panjang. Teman kita yang seharusnya jatuh mentalnya ini, ternyata tidak jadi kehilangan semangat, bahkan akhirnya merintis karirnya menjadi pelatih. “Saya tidak pernah lepas menggenggam ‘basket’. Mengapa harus berhenti?” kata teman kita ini.

Kita tahu bahwa hambatan dan kendala pasti dihadapi setiap orang dan terkadang bisa menjatuhkan mental. Namun, sepanjang individu punya kecintaan dan minat yang kuat terhadap substansi tertentu, ia senantiasa bisa menemukan jalan untuk membakar antusiasmenya terus-menerus dan tidak berhenti berkarya. Teman kita ini juga menambahkan, “Fokus pada diri sendiri tidak boleh terlalu berlebihan, karena situasi seperti ini membuat kita tidak bisa memperhatikan dan bekerja untuk  orang lain di sekitar kita.“ Ya, mana mungkin kita mengeluarkan prestasi terbaik, jika tujuan kita semata untuk kepentingan pribadi? Dengan memperluas minat dan kepedulian pada keadaan di sekitar kita dan kebutuhan orang lain, sumber energi kita tentu akan terus terisi, bahkan bertambah besar.

Motivasi itu Dinamis
Orang yang malas sering kita sebut sebagai orang yang tidak punya motivasi. Dengan pandangan ekstrem seperti ini, kita seakan punya beban berat jika diberi tugas untuk ‘menanamkan’ motivasi dalam diri seseorang atau sebuah tim. Sebaliknya, kalau kita membayangkan bahwa motivasi itu bagaikan sebuah sumber energi dalam tubuh kita, kita bisa melihat bahwa motivasi akan selalu ada dalam diri tiap orang. Ada orang yang sumber energinya kuat, ada yang sumber energinya lemah. Ada orang yang mampu konsisten menjaga sumber energinya tinggi, namun ada juga yang grafik “energi”-nya naik-turun.

Hal yang ‘magic’ adalah bahwa bahwa energi yang kuat dari seseorang, bisa menular pada orang lain. Kita tahu bahwa hawa bersemangat dari seorang pemimpin bagaikan virus yang bisa segera menyebar, membuat orang lain merasa ringan dalam bekerja, bahkan membuat tim jadi kuat mendobrak dan mendorong hasrat pemecahan masalah kreatif. Jadi, sebetulnya tidak sulit juga membawa organisasi pada suasana motivasional. Dengan meng-enjoy pekerjaan kita, melihat kekuatan tim dan berpikir positif, mengajak teman-teman untuk selalu berpikir maju, pastinya hawa tim akan berubah dan bisa segera mengangkat energi dari orang-orang lain disekitar kita juga. Motivasi itu dinamis, mengalir dan bergerak. Tantangan pun tidak usah dicari-cari lagi jika kita terbiasa berkomunikasi efektif, sehingga kritik dan evaluasi bisa terus masuk. Sebagaimana sering kita baca: “Motivation requires a delicate balance of communication, structure, and incentives “. (Eileen Rachman & Sylvina Syavitri)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar