Rabu, 02 Oktober 2013

K o n e k s i



Saya pernah sangat terkejut ketika seorang pimpinan instansi kesehatan di tempat saya bekerja, dua dekade lalu, mengatakan dalam sebuah rapat besar agar setiap karyawan memperkenalkan teman, anak, kakak, adik dan saudaranya untuk direkomendasikan sebagai karyawan. Tanpa segan beliau berkata, “Beginilah cara kita merekrut staf. Kita rekrut orang yang kita kenal”. Tentu saja hal ini lumayan berbeda dengan situasi di tempat lain, di mana banyak orang yang ingin dipandang berintegritas tinggi, memandang sinis bahkan alergik terhadap  ‘koneksi’ persaudaraan dan pertemanan untuk melancarkan pekerjaan  maupun proyek.

Dua dekade yang lalu istilah “koneksi”, “katabelletje”, dipandang sebagai sesuatu yang negatif, manipulatif alias hubungan ‘di bawah meja’. Di jaman  orangtua saya dulu, sering saya dengar ungkapan sinis mengenai  “2C” yaitu “connectie & centen”, koneksi dan uang. Tidak mengherankan bila masih ada professional yang tidak percaya bahwa membina hubungan, baik ke luar maupun di dalam perusahaan sebenarnya bisa berlandaskan niat yang positif dan bahwa hal ini sangat perlu diupayakan.

Bersiaplah Gagal jika Tak Bina Hubungan dari Sekarang.
Meskipun kelancaran proyek adalah sasaran setiap professional, kita melihat bahwa banyak orang yang piawai di bidangnya, tidak mendapat dukungan teman sekerja atau timnya dalam penyelesaian pekerjaan, hanya karena ketidakmampuan membina hubungan baik. Komentar yang muncul bisa macam-macam,“Ngomongnya nggak enak….” Atau  “Emangnya pekerjaan dia aja yang penting…”. Tidak sedikit professional seperti ini akhirnya harus menerima kegagalan, karena pada saat promosinya, bekerja dengan orang lainlah yang menjadi tuntutan jabatannya.  


Inilah tantangan seorang professional dalam membina hubungan baik di internal perusahaan. Kapan mencuri waktu  yang sudah sempit ini untuk berembug? Kapan bicara soal perbaikan? Bagaimana enaknya membicarakan upaya korektif, apalagi mencari masukan? Rasa mentok seperti ini sering malah menimbulkan reaksi yang justru terbalik pada individu. Terkadang individu bahkan lebih nyaman mengurung diri di kamar kerjanya dan tidak berhenti membuat planning, skedul dan reskedul sendiri, tanpa mendapat dukungan penuh pada implementasinya. Kemampuan strategik yang dimiliki individu bisa tidak mempan semata karena tidak bisanya ia membina hubungan baik. Ia bisa tumbuh sebagai orang yang dipandang pandai, tetapi tidak piawai “memegang”  proyek yang mengandalkan koordinasi dengan  banyak orang lain.

Hubungan Baik Antarkaryawan adalah Aset Perusahaan
Di samping kenyataan sulit bertemannya seorang individu, kita kadang menemui individu yang mudah sekali mendapatkan simpati, mudah meminta dukungan dan bahkan mudah memberi instruksi kepada orang lain. Saya kebetulan mengenal seorang fresh graduate yang ditugasi mengurusi kelancaran beberapa proyek sekaligus dan melakukannya dengan berhasil. Ketika saya tanyai apa yang menyebabkan ia dapat bekerja dengan orang-orang yang lebih tua dan berpengalaman, ia menjawab:”Simpel saja, bina hubungan baik”. Bisa kita bayangkan betapa hubungan baik antar karyawan bisa meningkatkan “nilai” asset perusahaan.

Jalinan jejaring diperusahaan ternyata tidak sekedar personal tetapi juga operasional dan strategik. Dengan jalinan hubungan personal, kita bisa mendapatkan dukungan teman kerja dalam berbagai bentuk, seperti support, umpan balik, informasi dan masukan lain yang sulit kita dapatkan secara formal. Kita tahu ke mana harus pergi agar proyek mudah selesai. Jalinan hubungan baik yang sifatnya operasional akan membantu individu untuk saling terlibat dalam lintas tanggung jawab dan akuntabilitas. Sementara secara strategik akan memberi informasi yang lebih mendalam mengenai sumberdaya, kesempatan dan peluang yang tersedia di dalam dan di luar perusahaan, serta akses kepembuat keputusan organisasi.  

Berapa Jumlah Teman Anda?
Teman saya yang memimpin beberapa perusahaan sering sekali ‘curhat’ dengan sahabat-sahabatnya di kantor yang otomatis adalah bawahannya. Saya pernah bertanya “Apakah hal ini sehat dan tidak beresiko?” Dengan tegas ia mengatakan, “Bila saya tidak mempunyai “kawan”, saya tidak akan sanggup menanggung beban sebanyak ini. Tentunya ada resiko bahwa “kawan” ini berkhianat dan berbalik atau bahkan menusuk dari belakang. Untungnya, hal ini tidak pernah terjadi”. Kenyataannya memang mempunyai banyak sahabat kental di kantor akan memudahkan kolaborasi, “sharing” pengetahuan dan inovasi. Dalam hal ini, tentunya tetap mesti juga ada kemampuan untuk membangun “trust” dan memilih orang dengan  cermat.

Memang sangat wajar bila di era komunikasi seperti sekarang hampir semua orang jadi lebih banyak berkomunikasi daripada 10 tahun yang lalu. Namun, yang mengherankan adalah bahwa ada penelitian yang membuktikan bahwa rata-rata, seorang pemakai telpon genggam, hanya menghubungi 4 (empat) orang secara intensif dan rutin, diantara semua jumlah panggilan telponnya. Karenanya, pertanyaan yang perlu diajukan sekedar refleksi untuk diri sendiri adalah: “Berapa jumlah “sahabat” yang anda punyai di kantor dan dalam bisnis?”


Kita lihat bahwa saat ini, pengembangan ekonomi bukan sekedar “Seberapa banyak uang yang anda punya”, tetapi bisnis bisa berkembang dengan “Seberapa kontak yang Anda punya”. Tidak heran bahwa banyak eksekutif kini tak lagi merahasiakan nomor hape-nya. Alasannya banyak. Antara lain karena kontak langsung dengan “lapangan” bisa membawa fakta yang bahkan lebih tajam daripada data yang dibeli dari perusahaan riset, juga merupakan cara paling ampuh untuk tetap “update” dengan perubahan dan perkembangan di lapangan. Bahkan, tak jarang kontak langsung di lapangan membawa ide-ide dan solusi baru yang lebih segar yang mendorong sukses organisasi. (Eileen Rachman & Sylvina Syavitri)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar